Direktur EMBA Group Akhirnya Mengungkap Makna Asli di Balik Nama Brand EMBA

Outlet EMBA Brand di Malang Town Square (foto: Blok-a.com/Ovan Z)
Outlet EMBA Brand di Malang Town Square (foto: Blok-a.com/Ovan Z)

Malang, Blok-a.com – Direktur EMBA Group, Joseph Herlambang, secara resmi mengungkapkan makna dan filosofi di balik nama merek dagang EMBA. Ini sekaligus meluruskan salah paham yang sudah bertahun-tahun beredar di masyarakat. Di mana, menyebutkan bahwa nama tersebut merupakan singkatan dari “embong bandulan”.

Dalam pernyataan resminya, Joseph menegaskan bahwa nama EMBA lahir dari sebuah gagasan, bukan dari nama tempat.

“Ada nama brand yang terinspirasi dari sebuah tempat. Tapi ada juga nama yang lahir dari sebuah gagasan. Nah, EMBA adalah yang kedua,” tulisnya.

Klarifikasi ini disampaikan menyusul narasi keliru mengenai asal-usul nama EMBA di berbagai platform digital. Narasi tersebut bahkan telah dikutip oleh sistem kecerdasan buatan (AI) dan masuk ke sejumlah teks akademik.

Berakar dari Malang, Dirancang untuk Indonesia

Joseph mengakui bahwa perusahaan memiliki akar yang kuat di Kota Malang. Namun ia menegaskan, akar geografis itu tidak ada kaitannya dengan nama brand yang diluncurkan pada 1982.

“EMBA memang memiliki akar yang kuat di Kota Malang. Seperti yang diketahui, dimulai dari bisnis keluarga pada tahun 1968, awalnya sebuah usaha sederhana dengan toko kain dan tiga mesin jahit,” jelasnya.

Sering Salah Kaprah, Ini 3 Mitos Sejarah EMBA Group yang Akhirnya Diluruskan

Menurutnya, nama EMBA sendiri lahir ketika perusahaan membaca peluang bisnis baru, dari perubahan gaya hidup masyarakat. Waktu itu tren fashion mulai bergerak dari pakaian formal menuju gaya yang lebih kasual. Jeans dan denim mulai banyak digemari, di saat yang sama jaringan department store dan pasar modern mulai berkembang.

Di tengah perubahan itulah, lanjut Joseph, lahir nama EMBA yang dipilih karena karakternya sesuai dengan gagasan utama usaha rintisannya.

“Nama itu sederhana, mudah diucapkan, mudah diingat, dan memiliki karakter modern. EMBA,” tegasnya.

Empat Huruf, Satu Identitas

Lebih lanjut dalam pernyataannya, Joseph Herlambang juga menjelaskan bahwa empat huruf EMBA mencerminkan nilai-nilai yang menjadi fondasi perusahaan, yakni Evolve, Modern, Bold, dan Authentic.

Huruf “E” yang merujuk pada Evolve mencerminkan komitmen untuk terus berkembang.

“Brand yang ingin bertahan bukan berarti selalu mempertahankan segala sesuatunya tetap sama, tetapi brand yang mampu berubah tanpa kehilangan jati dirinya,” tulis Joseph.

Lalu huruf “M” merujuk pada istilah Modern yang bermakna relevan dengan tren konsumen masa kini.

“Modern juga tidak selalu berarti mengikuti setiap tren. Modern berarti memahami bagaimana konsumen hidup, bekerja, bepergian, bersosialisasi, dan mengekspresikan diri,” jelasnya.

Sementara “B” bermakna Bold, yaitu keberanian untuk berinovasi. Menurut Joseph, sebuah brand tidak akan memiliki masa depan jika hanya hidup dari masa lalunya.

Sedangkan huruf “A” merujuk pada kata Authentic, bermakna akar sejarah perusahaan.

“Seperti EMBA yang sudah selama lebih dari lima dekade perjalanannya memberikan pengalaman, pengetahuan, dan hubungan yang panjang dengan konsumen Indonesia,” jelas Joseph. (ova)

IT Support dan editor support, sesekali menulis artikel dengan topik favorit seputar sosial-budaya dan gaya hidup.