Ekraf Punya Potensi Berkembang Besar di Kota Malang, Apa Tantangannya? 

Diskusi ekonomi kreatif (Ekraf) di Pembukaan Uji Kompetensi Wartawan (UKW) PWI Malang Raya angkatan 54-55. (Blok-a.com/Putu Ayu Pratama S)
Diskusi ekonomi kreatif (Ekraf) di Pembukaan Uji Kompetensi Wartawan (UKW) PWI Malang Raya angkatan 54-55. (Blok-a.com/Putu Ayu Pratama S)

Kota Malang, blok-a.com – Dunia ekonomi kreatif (Ekraf) terus berkembang secara berkelanjutan di Kota Malang. Bahkan, hingga saat ini Pemerintah Kota (Pemkot) tak henti-hentinya mendorong kemajuan Ekraf itu sendiri.

Salah satu bentuk dorongan Pemkot Malang, yakni melalui Malang Creative Center (MCC). Memiliki 16 subsektor ekonomi kreatif, MCC menjadi home base bagi penggiat Ekraf di Kota Malang.

Data Consultant asal Jakarta, Asandra Salsabilah mengatakan bahwa, Ekraf di Kota Malang masih memiliki peluang besar untuk terus dikembangkan.

Kendati demikian, ada sejumlah tantangan yang harus terus diperhatikan. Salah satunya, perkembangan Sumber Daya Manusia (SDM) dalam bidang teknologi, data, dan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).

Sebab, hingga saat ini AI terus mengalami perkembangan seiring mengikuti zaman.

“Seluruhnya harus bergerak secara paralel, tidak dapat sendiri-sendiri, harus berjalan secara beriringan,” ujar Salsabilah saat mengisi pemateri Ekraf di Pra UKW PWI Malang Raya, Jumat (17/11/2023).

Wanita berusia 24 tahun ini mengatakan, jika dibandingkan dengan kota metropolitan Jakarta, menurutnya ada perbedaan penetrasi hingga kesiapan SDM dibandingkan Kota Malang.

Akses Permodalan

Selain itu, Sandra, sapaan akrabnya, juga membahas perbedaan dalam akses permodalan antara Jakarta dan Kota Malang.

Di Jakarta, menurutnya, banyak perusahaan perintis yang dapat dengan mudah bertemu dengan investor.

Sementara itu, kondisi kultur di Kota Malang dapat dikatakan kurang maksimal. Sebab masih adanya persepsi bahwa modal untuk memulai usaha sangat tinggi dan harus didasari dari modal pribadi.

“Padahal kan kita ada program partnership seperti itu, dengan feature capital atau dengan investor dan lain-lainnya. Kurang lebih itu,” ujarnya.

Pelaku ekraf di MCC. (blok-a.com/Putu Ayu Pratama S)
Pelaku ekraf di MCC. (blok-a.com/Putu Ayu Pratama S)

Meskipun demikian, ada titik terang yang terdapat di Kota Malang. Yakni, terkait dengan pekembangan Kota Malang sebagai pusat pendidikan, menurutnya hal ini justru menjadi potensi besar yang harus dimanfaatkan.

Dengan banyaknya lembaga perguan tinggi di Kota Malang, Sandra menekankan pentingnya mengikuti jejak kota pendidikan lainnya, seperti Yogyakarta, dalam pengembangan software engineering sebagai ekspor potensial dari Kota Malang.

“Potensi Kota Malang besar selalu, tapi terus harus dikembangkan. Mau itu SDM atau teknologi. Karena kalau orang mau invest di Malang, harus ada something yang mendukung. SDM-nya sudah bagus, tinggal kita tingkatkan lagi. Jadi kalau harus diurutin, paling urgent menurut aku permodalan dulu,” tandasnya.

Kolaborasi Stakeholder

Di sisi lain, pakar ekonomi, Nurafni Eltivia juga mengamini bahwa Malang menjadi kota dengan pertumbuhan ekraf yang cukup baik. Sebab, dalam perkembangannya, pelaku ekraf difasilitasi melalui MCC.

“Selain Kota Pendidikan, Malang juga memiliki MCC yang dapat dipergunakan untuk terus belajar, mencari dan mengasah kreativitas yang ada di diri kita,” ujar Nurafni Eltivia saat ditemui di Mini Block Office, Sabtu (18/11/2023) siang.

Pakar ekonomi, Nurafni Eltivia saat ditemui di Mini Block Office, Sabtu (18/11/2023) siang.(blok-a.com/Putu Ayu Pratama S)
Pakar ekonomi, Nurafni Eltivia saat ditemui di Mini Block Office, Sabtu (18/11/2023) siang.(blok-a.com/Putu Ayu Pratama S)

Dalam hal ini, Nurafni Eltivia memiliki pandangan yang sama terhadap perkembangan ekraf di Malang Raya.

Selain perlu adanya perkembangan SDM, Via, sapaan akrabnya menyebutkan, pengembangan ekraf juga perlu diperkuat dengan kolaborasi antar stakeholder terkait.

Di antaranya yakni kolaborasi yang dilakukan oleh pelaku ekraf, pemerintah daerah, lembaga pendidikan, hingga lembaga keuangan.

“Yang terpenting adanya kolaborasi, semua pihak harus terlibat dalam hal ini menyukseskan ekonomi kreatif,” jelasnya.

Menurut Via, support dari instansi pendidikan juga turut andil dalam pembentukan kreativitas anak sejak dini. Lantaran, pembentukan jiwa entrepreneurship dapat dimulai dari lembaga pendidikan.

“Nah ekraf sendiri merupakan entrepreneurship, itu yang perlu kita gali. Untuk saat ini, mindset entrepreneurship masih ke entrepreneurship ke yang produknya jasa atau produk yang sifatnya nyata, tapi ekrafnya belum,“ urainya.

Sehingga, perlu adanya inovasi dan kreativitas yang terus digali untuk pelaku ekraf. Terlebih, Via menambahkan, bahwa pertumbuhan Ekraf terus berjalan secara cepat seperti pertumbuhan teknologi pada umumnya.

“Turutama kreativitas, inovasi, bagaiama setiap pribadi dia punya daya inovasi, tidak pernah berhenti untuk belajar karena seperti kita ketahui ekraf cepat banget siklusnya. Jadi cepat sekali perubahannya sama seperti teknologi. Untuk itu dalam hal ini diharapkan untuk terus belajar,” pungkasnya. (ptu/lio)