Menilik Makna Kebebasan dari Pameran Visual NOVART, Lawan Rasa FOMO Pada Trend

Caption : Suasana pameran karya visual NOVART 2023 di Gedung Sasana Krida Budaya (foto : Widya/Nashrul/Blok-A.com)
Caption : Suasana pameran karya visual NOVART 2023 di Gedung Sasana Krida Budaya (foto : Widya/Nashrul/Blok-A.com)

Kota Malang, Blok-a.com– Himpunan mahasiswa Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang (UM) gelar pameran karya visual NOVART yang usung tema “limitless” yakni tanpa batas. Pameran tersebut berusaha memberikan pesan bahwa seharusnya seniman tidak terpaku pada batas-batas, terutama trend. Hal itu disampaikan oleh Ketua Pelaksana NOVART, Carevi Rizieq Azamy.

“Terinisiasi dari fenomena FOMO juga yakni rasa takut untuk tidak ikut dengan trend. Agar para seniman bisa berkarya bebas tanpa harus mengikuti trend,” ujar lelaki berkacamata ini, pada (30/11/2023).

Dia sering menemukan banyak seniman sebayanya yang berkarya mengikuti trend. Hal itu berdampak lebih banyak hingga tidak adanya proses kreatif dan brainstorm. Juga, tidak adanya ciri khas dari seniman tersebut.

“Kalau dari riset kecil-kecilan yang aku lakukan, banyak terjadi plug and play, jadi meniru atau jiplak karya dari karya orang, sehingga tidak ada brand image,” kata dia.

Brand image adalah bagian penting dalam berkarya, karena ciri khas tersebut akan menempel pada nama seniman itu. Sementara itu, semenjak adanya trend yang datang di media sosial itu, keanekaragaman karya seni visual sangat minim.

Sehingga, hal itu yang dia coba untuk suarakan melalui pameran NOVART, yang digelarnya tiga hari mulai tanggal 28 hingga 30 November. Melibatkan 42 karya visual, dan satu karya seni instalasi salah satunya.

Acara yang bernama NOVART ini digelar di Sasana Krida Budaya, Universitas Negeri Malang (UM). Dalam acara NOVART kali ini, pihaknya mengundang dua musisi ternama, MONOHERO DAN RE:NAN. Kedua musisi tersebut berkonsentrasi tidak hanya di musik saja, melainkan juga dalam bentuk seni visual mapping.

Dalam pameran karya tersebut juga akan menyajikan pementasan teater, art tour untuk pengunjung, dan art-talk dimana para pengunjung bisa menanyakan lebih lanjut soal karya pada seniman terkait.

Hal yang unik dari pameran ini adalah, pada pintu masuk akan disambut oleh alien berwarna hijau. Kemudian, langsung memasuki ruangan yang penuh dengan lukisan dan karya visual konvensional lainnya. Bingkai-bingkai tersebut ditata rapi di dalam ruangan. Di bawah bingkai yang terpampang itu, terdapat plat yang menuliskan siapa pengkarya dan judul. Kemudian, tour akan ditutup dengan seni instalasi.

Yakni, terdapat sebuah karya seni instalasi yang interaktif. Yakni sebuah kristal buatan yang bisa memantulkan cahaya apik bak aurora di kutub. Pengunjung diminta untuk mengarahkan senter HP ke pecahan-pecahan stiker kaca yang ada di kristal itu untuk turut menciptakan bayangan.

Ke depan, Carevi berharap ekosistem kesenian terutama desain visual bisa lebih baik lagi, terutama di Kota Malang. Dia berharap produktivitas seni bisa seperti di daerah lain, seperti Yogyakarta dan Bali. (mg2/bob)

Kirim pesan
Butuh bantuan?
Hai, apa kabar?
Apa yang bisa kami bantu?