Kota Malang, blok-a.com – Mocopart (Motor Custom dan Autopart) 2026 sukses digelar di Taman Krida Budaya, Kota Malang, pada Sabtu-Minggu (24-25/10/2026). Puluhan sepeda motor kustom bergaya modern, klasik, scrambler, board tracker, chopper, hingga performance bagger dipamerkan dalam gelaran ini.
Founder Mocopart, Ariantanto Eko Harnoko mengatakan, memasuki tahun kedua penyelenggaraan, Mocopart 2026 mengusung tema “Untamed Journey”. Tema tersebut mengangkat kebebasan berekspresi dan wadah untuk menemukan jati diri bagi pegiat otomotif tanpa terikat batasan.
“Untamed Journey itu adalah kebebasan untuk berekspresi. Di mana setiap motor kustom itu adalah perwujudan dari ekspresi pemiliknya. Jadi pemiliknya meminta ke builder untuk bikin konsep, dan disetujui. Barulah motor itu jadi,” katanya, Minggu (25/10/2026).
Pada penyelenggaraan tahun ini, Mocopart menghadirkan sejumlah pembaruan konsep. Di antaranya adalah kehadiran empat band penampil utama, yakni The Sigit, White Swan, Begundal Lowokwaru, dan X60 Jaran.
Gelaran ini juga menampilkan mobil vintage asal Amerika Serikat dan Jerman. Selain itu, pengunjung dapat menyaksikan pertunjukan live paint strip dan mengikuti lucky draw berhadiah Honda Dax Custom. Panitia turut menyediakan area komunitas bagi pemilik motor kustom, klub motor, dan builder untuk berkumpul.
Pria yang akrab di sapa Noko ini mengaku, ingin menjadikan Mocopart sebagai agenda tahunan yang mempertemukan pegiat motor kustom dari berbagai daerah, seperti Batu, Kediri, Blitar, hingga Surabaya.
“Di Malang ini belum ada, akhirnya saya bikin di Malang sebagai event annual tiap tahunnya. Supaya teman-teman dari Malang, Batu, Kediri, Blitar, Surabaya, dan lainnya itu bisa kumpul di sini tiap tahun,” jelasnya.
Kehadiran builder asal Malaysia, Pa’din Musa, juga menjadi salah satu daya tarik tahun ini. Builder yang telah berkecimpung di dunia motor kustom selama sekitar 40 tahun tersebut berbagi pengalaman dan wawasan kepada builder khususnya di Kota Malang.
Noko menyebut, Pa’din Musa mendorong para pecinta motor kustom untuk datang langsung ke berbagai pameran agar dapat mengamati detail kendaraan, termasuk kualitas pengerjaan dan finishing yang sulit terlihat melalui video.
“Dia berpesan kepada builder, jangan hanya lihat video motor kustom di sosial media. Tapi harus datang ke event motor kustom untuk melihat langsung kerapian finishing-nya. Karena kalau tidak datang langsung, itu sangat disayangkan sekali,” kata Noko, mengutip pandangan Pa’din Musa.
Di sisi lain, Noko mengakui kondisi ekonomi turut memengaruhi industri motor kustom. Dirinya melihat sejumlah pemilik mulai menyesuaikan anggaran saat memesan motor kepada builder.
“Konkretnya, dulu builder merancang konsep secara jor-joran demi ikut kontes, tapi sekarang menyesuaikan anggaran yang ada,” ungkapnya.
Meski anggaran mengalami penyesuaian, ia menjelaskan, tidak ada satu gaya motor custom yang mendominasi setiap tahun. Pilihan gaya tetap bergantung pada selera dan perspektif masing-masing pemilik.
“Style motor kustom tiap tahun beda-beda. Karena urusan style itu adalah perspektif dari pribadi pemilik motor. Jadi kalau memang dia sukanya style chopper, ya chopper, kalau scrambler, ya scrambler,” pungksnya. (ber)








