Puluhan Kambing Etawa Kaligesing Adu Kualitas di Latber MAPEC Malang

Festival kambing peranakan Etawa yang digelar oleh komunitas MAPEC (ist)
Festival kambing peranakan Etawa yang digelar oleh komunitas MAPEC (ist)

Kabupaten Malang, blok-a.com – Potensi peternakan kambing Peranakan Etawa (PE) Kaligesing di Malang Raya terbilang tinggi. Jumlah peternaknya pun cukup melimpah karena kambing jenis seni ini memiliki penggemar tersendiri. Untuk menggairahkan kembali animo para penghobi, Malang Peranakan Etawa Community (MAPEC) menggelar Latihan Bersama (Latber) sekaligus bursa lelang di Stadion Gunung Kembar, Turen, Kabupaten Malang, Minggu (16/11/2025) lalu.

Sebanyak 60 ekor kambing PE dari berbagai wilayah di Malang Raya turun berebut gelar juara 1 hingga 3 di empat kelas yang dibuka panitia: Kelas E jantan dan betina serta Kelas D jantan dan betina. Selain predikat juara, panitia juga menyiapkan uang pembinaan jutaan rupiah.

“Alhamdulillah ada 60 lebih peserta yang hadir. Mereka semua berasal dari Malang Raya,” kata Ketua Panitia Latber MAPEC, Hamzah, Selasa (18/11/2025).

Di sisi lain, Ketua MAPEC, Ugik Harianto, menyampaikan bahwa populasi peternak PE di Malang Raya sebenarnya sangat besar. Anggota MAPEC sendiri mencapai puluhan peternak, belum termasuk mereka yang belum terdata dan tersebar di Kabupaten Malang, Kota Malang, dan Kota Batu.

“Jumlahnya sangat banyak. Kambing PE itu memiliki seni tersendiri. Sehingga banyak yang suka meski memang ada perawatan ekstra karena untuk mendapatkan hasil maksimal saat mengikuti kontes baik skala lokal, regional maupun nasional,” ujar Ugik, pemilik Berkah Sepanjang Farm di Gondanglegi.

Ugik menjelaskan, hadiah pembinaan dari kontes memang tak sebanding dengan nilai jual kambing PE. Untuk anakan usia 2–3 bulan di kelas terendah (kelas E), harganya sudah mencapai Rp20 juta hingga Rp25 juta. Nilai tersebut bisa melompat drastis apabila kambing berhasil menembus tiga besar.

“Namun jika kambing itu berprestasi masuk 3 besar. Juara 1 atau 2 atau 3 maka harga kambing bisa lebih mahal lagi. Harga Rp25 juta itu harga untuk kelas E. Punya teman-teman peternak lain bahkan ada yang sampai ratusan juta untuk yang kelas B atau kelas tertinggi yaitu kelas A,” jelasnya.

Dengan nilai ekonomi yang tinggi, Ugik menegaskan bahwa beternak kambing PE bukan pekerjaan sepele. Jika dikelola serius, usaha ini dapat menghasilkan bibit unggulan sekaligus menjadi bisnis menggiurkan bagi para peternak di Malang Raya.

Korwil MAPEC Kota Malang, Lucky Aditya, menambahkan bahwa para peternak PE Kaligesing membutuhkan perhatian dari para pemangku kepentingan. Akses pelatihan, pendampingan kesehatan ternak, hingga permodalan disebutnya penting untuk menjaga keberlanjutan peternakan.

“Para peternak PE Kaligesing telah membuktikan bahwa kambing juga bisa mahal. Apalagi pecinta kambing seni di Malang Raya sangat besar. Peternaknya harus dikuatkan, sudah saatnya mereka diberi pendampingan, pelatihan digital marketing misalnya untuk pemasaran, bahkan jika memungkinkan diberi akses permodalan,” kata Lucky. (yog/bob)