Asal Muasal Nama Kawasan Tanjung di Kota Malang, Sudah Ada Sebelum Indonesia Ada

Jalan I.R Rais atau lebih akrab di telinga masyarakat dengan kawasan Tanjung (blok-a.com / Berril)
Jalan I.R Rais atau lebih akrab di telinga masyarakat dengan kawasan Tanjung (blok-a.com / Berril)

Kota Malang, blok-a.com – Di tengah padatnya permukiman dan lalu lintas di sekitar Pasar Kasin, Kecamatan Sukun, terselip sebuah nama lama yang menyimpan jejak sejarah panjang. Meski saat ini terpampang jelas di peta bernama Jalan Ichwan Ridwan (IR) Rais, namun masyarakat Kota Malang lebih mengenal kawasan ini dengan nama Tanjung.

Pemerhati Sejarah dan Budayawan Kota Malang, Agung Buana, mengatakan sebutan Tanjung diyakini telah ada jauh sebelum Indonesia merdeka, bahkan dimungkinkan sejak era kerajaan Hindu-Buddha.

Ia mengungkapkan penamaan kawasan di Malang pada umumnya sangat berkaitan dengan kondisi lingkungan alam pada masanya.

“Penyebutan nama di daerah Malang itu erat kaitannya dengan tanaman. Kalau yang tumbuh tanaman tanjung, maka disebut Tanjung. Kalau kebun belimbing ya disebut Blimbing, kalau banyak sukun ya disebut Sukun,” ujar Agung, Rabu (4/3/2026).

Artinya, lanjut dia, penamaan Tanjung bukanlah nama yang muncul tanpa makna. Ia lahir dari lanskap ekologis yang pernah ada. Pohon tanjung (Mimusops elengi), yang dikenal memiliki bunga harum dan kayu yang kuat, diduga tumbuh cukup dominan di kawasan tersebut sehingga menjadi penanda identitas wilayah.

Jejak nama Tanjung dapat ditelusuri melalui peta-peta lama peninggalan kolonial Belanda. Agung menyebut, dalam peta tahun 1920-an hingga 1942 dan 1945, kawasan tersebut masih tertulis sebagai Tanjung.

“Di peta tahun 1945 masih ada penyebutan Tanjung. Bahkan daerah Bareng yang dekat Pasar Kasin dulu juga disebut Tanjung,” ungkapnya.

Menariknya, pada masa itu ternyata terdapat dua wilayah yang sama-sama dikenal dengan nama Tanjung, yakni di bagian utara dan selatan Kota Malang. Menurutnya, wilayah Mbareng termasuk juga

“Tanjung itu ada dua, di utara ada, di selatan juga ada. Jadi bukan hanya satu titik seperti yang kita pahami sekarang,” terang Agung.

Wilayah Tanjung pada masa kolonial membentang dari sekitar kawasan Lambau—yang dahulu dikenal sebagai lokasi sekolah pertanian—hingga area Jalan Turunan, yakni jalur tanjakan dari Pasar Kasin ke arah timur.

“Ini menunjukkan Tanjung bukan sekadar nama kampung kecil, melainkan kawasan yang cukup luas dan penting dalam perkembangan kota saat itu,” tuturnya.

Agung menyampaikan, nama Jalan I.R. Rais yang kini dikenal masyarakat baru digunakan sekitar tahun 1960–1970-an. Sebelum periode tersebut, warga setempat lebih akrab menyebutnya sebagai Jalan Tanjung.

“Orang dulu menyebutnya Jalan Tanjung karena memang kampungnya bernama Tanjung,” imbuh Agung.

Perubahan nama jalan tidak serta-merta menghapus ingatan kolektif masyarakat terhadap identitas lama kawasan tersebut. Hingga kini, nama Tanjung tetap hidup dalam administrasi kelurahan maupun dalam tuturan warga dengan nama Kelurahan Tanjungrejo.

Lebih jauh, Agung menilai sangat mungkin penamaan Tanjung sudah ada sejak masa klasik, yakni periode Hindu-Buddha antara abad ke-9 hingga abad ke-15.

“Masa klasik itu abad ke-9 sampai abad ke-15. Sudah dimungkinkan penamaan Tanjung ada sejak masa itu, karena tanaman tanjung memang banyak tumbuh di sana,” ujarnya.

Jika asumsi ini benar, maka Tanjung bukan hanya nama dari era kolonial, melainkan jejak toponimi yang telah berusia ratusan tahun—menghubungkan masa kerajaan, kolonial, hingga kota modern saat ini.

Bagi Agung, nama kampung bukan sekadar label administratif. Ia adalah arsip hidup yang merekam hubungan manusia dengan alam.

Di tengah perubahan wajah Kota Malang yang terus bergerak, nama Tanjung menjadi pengingat bahwa sebelum deretan rumah dan jalan beraspal berdiri, kawasan itu pernah ditandai oleh rimbunnya pohon tanjung yang memberi identitas pada wilayahnya. Sebuah nama yang sederhana, namun menyimpan lapisan sejarah panjang tentang alam, manusia, dan perjalanan kota.

“Itu bukan kebetulan. Nama kampung adalah identitas sejarah yang merekam kondisi lingkungan pada zamannya,” pungkasnya. (yog/bob)