Kota Malang, blok-a.com – Di RT 12 RW 10 Muharto, Kelurahan Kotalama, Kecamatan Kedungkandang, Kota Malang, terdapat sebuah kawasan yang dikenal warga sebagai “Kampung Pemulung”. Nama itu bukan sekadar sebutan, melainkan jejak sejarah panjang kehidupan warganya yang dahulu menggantungkan hidup dari memulung barang bekas.
Menurut Ernawati, Kader RT 12 setempat, sebutan kampung pemulung sudah ada sejak kawasan tersebut mulai ditempati pada tahun 2002. “Sejak didirikan tahun 2002, memang sudah disebut kampung pemulung,” ujarnya.
Kampung ini lahir dari proses relokasi warga yang sebelumnya tinggal di bantaran sungai, tepatnya di kawasan pertemuan Sungai Brantas dan Sungai Bango. Kala itu, pemerintah menggusur permukiman di pinggir sungai dan memindahkan warga ke lokasi yang sekarang ditempati.
“Dulu rumahnya di bantaran sungai, terus digusur dan direlokasi ke sini. Mayoritas yang pindah memang pemulung,” jelas Ernawati.
Sejak saat itu, aktivitas memulung menjadi identitas utama warga. Sebagian besar bekerja mengais barang bekas dari lingkungan sekitar hingga ke aliran sungai.
Namun seiring waktu, identitas tersebut perlahan memudar. Dari total sekitar 75 kepala keluarga (KK) yang tinggal di RT 12, kini hanya tersisa sekitar 15 orang yang masih berprofesi sebagai pemulung.
“Sudah berkurang. Banyak rumah dijual ke pendatang, terutama dari Madura. Jadi yang masih pemulung tinggal belasan,” katanya.
Perubahan ini menunjukkan adanya pergeseran sosial dan ekonomi di dalam kampung tersebut, meski sebagian warga masih bertahan dengan pekerjaan lama.
Menjadi pemulung bukan pekerjaan dengan penghasilan tetap. Ernawati menyebut, pendapatan warga sangat bergantung pada keberuntungan.
“Kalau rejeki ya bisa dapat Rp100 ribu sehari. Tapi kalau sepi ya Rp50 ribu sampai Rp70 ribu,” ujarnya.
Selain memulung di darat, ada juga warga yang mencari barang di sungai, atau biasa disebut “ngendang”. Mereka mengais logam seperti paku hingga benda berharga.
“Kadang bisa dapat emas, tapi ya tidak setiap hari. Kalau tiap hari dapat, ya pemulung sudah pada kaya,” katanya sambil tersenyum.
Momentum bulan Ramadan biasanya sedikit membantu karena meningkatnya sampah botol dan barang bekas dari aktivitas masyarakat. Namun di hari biasa, penghasilan cenderung sulit diprediksi.
Di balik kerasnya kehidupan, terdapat kisah-kisah warga yang menyentuh. Salah satunya adalah Bu Encit, lansia berusia sekitar 80 tahun yang kini sudah tidak bisa bekerja setelah mengalami kecelakaan dua tahun lalu.
“Dulu beliau penjual pisau. Tapi sempat diserempet pemulung lain, kena obrok sampai koma. Sekarang tidak bekerja, ditanggung anak dan mantunya,” terang Ernawati.
Kisah ini menjadi gambaran rentannya kehidupan warga yang bergantung pada sektor informal.
Menjelang Idul Fitri, bantuan sosial menjadi hal yang sangat dinantikan warga. Ernawati menyebut, bantuan sembako khusus untuk pemulung baru pertama kali diterima tahun ini.
“Kalau untuk pemulung baru kali ini. Kalau lansia sudah pernah dapat sebelumnya dari yayasan,” ujarnya.
Bantuan tersebut disambut antusias oleh warga. “Alhamdulillah, bisa buat beli baju lebaran anak,” katanya menirukan ungkapan salah satu warga.
Di tengah keterbatasan, harapan terbesar warga tertuju pada generasi muda. Melalui program “Laskar Belajar”, anak-anak di kampung tersebut mendapatkan pendidikan tambahan secara gratis setiap minggu.
“Kami berharap anak-anak tidak seperti orang tuanya. Bisa lebih maju dan punya masa depan lebih baik,” tutur Ernawati.
Kampung Pemulung mungkin lahir dari keterbatasan, namun semangat warganya untuk berubah menunjukkan bahwa masa depan masih bisa diperjuangkan. (bob)








