Kota Malang, blok-a.com – Terinspirasi dari karya seni pothole mosaic yang berkembang di Inggris, seorang perajin kaca patri di Kota Malang memilih memanfaatkan jalan dan trotoar berlubang sebagai ruang berkarya.
Ivan Rachman menyulap lubang di sejumlah titik menjadi karya mosaik menggunakan limbah potongan kaca patri dari produksinya. Karya tersebut diberi nama Pothole Mosaic dan kini telah terpasang di sekitar Jalan Semeru, Kota Malang.
Konsep pothole mosaic sendiri dikenal sebagai karya seni mosaik yang dibuat dengan memanfaatkan lubang pada jalan maupun trotoar. Konsep tersebut kemudian diadaptasi Ivan dengan menggunakan potongan-potongan kaca yang sebelumnya menjadi limbah produksi.
Saat ini, dua karya telah terpasang di sekitar Jalan Semeru. Satu karya mengisi lubang di badan jalan, sementara satu lainnya berada di trotoar. Karya ketiga juga tengah dikerjakan dan rencananya dipasang kembali di kawasan trotoar sekitar Jalan Semeru.
Bagi Ivan, karya tersebut bukan sekadar upaya mempercantik lubang jalan. Ia ingin menjadikan kemampuan yang dimilikinya sebagai bentuk kontribusi terhadap lingkungan tempatnya hidup, bekerja, dan mencari penghidupan.
Ia mengaku mendapat inspirasi dari mendiang seniman Nasirun melalui konsep “zakat kebudayaan”. Konsep tersebut menurutnya berkaitan dengan bagaimana seorang seniman dapat memberikan kontribusi terhadap ekosistem seni, kreativitas, sekaligus lingkungan di sekitarnya.
“Kiranya sementara hal ini sedikit kontribusi dari saya untuk lingkungan saya hidup, dibesarkan dan mencari makan, yaitu Kota Malang,” ujar Ivan.
Material yang digunakan Ivan juga bukan bahan baru. Ia memanfaatkan limbah potongan kecil kaca dari produksi kaca patri miliknya. Sebagian material lainnya diperoleh dari limbah produksi perajin kaca patri lain di Kota Malang.
Limbah tersebut sengaja dikumpulkan karena menurut Ivan, kaca tidak semestinya dibuang sembarangan. Material itu sebenarnya masih dapat dilebur kembali menjadi kaca utuh, namun ia belum memiliki oven khusus untuk melakukan proses tersebut.
Karena itu, Ivan memilih mengolahnya menjadi mosaik dengan peralatan sederhana seperti tang potong, alat pemotong kaca, lem, dan semen.
Pengerjaan dilakukan di sela kesibukannya menerima pesanan kaca patri dan mengelola warung kecil.
Karya pertama dibuat pada lubang berdiameter sekitar 15 sentimeter. Karya kedua mengisi lubang berukuran 10 x 20 sentimeter. Sementara karya ketiga yang masih dikerjakan berukuran sekitar 45 x 25 sentimeter.
Khusus karya pertama, Ivan memberinya nama “Makobu”. Nama tersebut terinspirasi dari julukan Kota Malang yang pernah dikenal sebagai Malang Kota Bunga.
Namun, ia juga menyelipkan sentilan mengenai kondisi kota saat ini.
“Malang Kota Bunga, tapi sekarang sepertinya Malang sejuta lubang dan parkir,” ungkapnya.
Meski demikian, Ivan menegaskan sejak awal dirinya tidak secara khusus membuat Pothole Mosaic sebagai bentuk kritik terhadap pemerintah.
Ide tersebut berawal dari keinginannya mempromosikan sekaligus mengasah kemampuan di bidang kaca patri dan mosaik. Ia ingin promosi tersebut dilakukan dengan cara yang tetap bertanggung jawab dan memiliki manfaat bagi orang lain.
“Kalau ada pihak atau individu yang menafsirkan ini adalah sebuah kritik tentang perawatan dan pengelolaan kota yang buruk, saya juga tidak masalah,” katanya.
Menurut Ivan, kondisi jalan dan trotoar berlubang sudah menjadi pemandangan yang cukup sering ditemuinya. Ia juga kerap melihat pengendara terjatuh akibat lubang, warga mengeluhkan kondisi jalan melalui media sosial, hingga persoalan trotoar yang dinilai belum sepenuhnya ramah bagi pejalan kaki.
Alih-alih hanya mengeluhkan kondisi tersebut, ia memilih meresponsnya melalui medium yang dikuasainya, yakni seni.
Ke depan, Ivan ingin terus membuat Pothole Mosaic di sejumlah titik lain di Kota Malang. Ia berharap karya tersebut tidak hanya menjadi pengingat mengenai kondisi fasilitas publik, tetapi juga menghadirkan sedikit keindahan bagi warga yang melintas.
“Semoga bisa konsisten melakukan kreasi ini, terlebih lagi jika hal ini bermanfaat. Agar bisa menghibur pedestrian, di sela semrawutnya fasilitas pejalan kaki tapi masih bisa menemukan keindahan kecil,” tuturnya.
Melalui kampanye #ArtisansDoitBetter, Ivan juga mengajak pelaku industri kreatif di Kota Malang untuk tidak hanya berkarya dan mencari penghidupan, tetapi ikut memberikan kontribusi sosial bagi lingkungan sekitar.
Menurutnya, seniman, kreator, perajin hingga desainer memiliki ruang untuk melakukan sesuatu bagi kota yang menjadi tempat mereka berkembang.
“Kalau bukan dengan aksi warga jaga warga, siapa lagi yang berupaya membuat ruang aman, nyaman dan syukur-syukur bisa buat bahagia? Apa tidak capek dan frustrasi terus-terusan berharap dan menuntut pada pemangku kebijakan?” pungkasnya. (bb)








