Pasar Kebalen, Pasar Krempyeng yang Jadi Titik Transit Pedagang dari Malang Timur

Pasar Kebalen, pasar krempyeng yang jadi titik transit pedagang dari Malang Timur (foto: blok-a.com / Yogga Ardiawan)
Pasar Kebalen, pasar krempyeng yang jadi titik transit pedagang dari Malang Timur (foto: blok-a.com / Yogga Ardiawan)

Kota Malang, blok-a.com – Pasar Kebalen yang berada di Kota Malang ternyata memiliki sejarah sebagai pasar krempyeng atau pasar sesaat. Aktivitas perdagangan di kawasan tersebut berlangsung sejak pagi dan kemudian kembali berubah fungsi menjadi jalan setelah para pedagang dan pembeli meninggalkan lokasi.

Sejarawan Malang, Agung H Buana mengatakan, istilah pasar krempyeng merujuk pada pasar yang hanya beroperasi dalam waktu singkat. Berbeda dengan pasar besar yang memiliki waktu operasional lebih panjang, pasar krempyeng biasanya ramai sejak dini hari dan mulai tutup sekitar pukul 08.00 hingga 09.00 WIB.

“Pasar Krempyeng itu pasar sesaat. Misalnya dini hari sudah buka sampai jam 8, tutup. Jadi bukan tipikal pasar besar yang bukanya dengan durasi panjang,” kata Agung saat diwawancarai blok-a.com, Jumat (4/9/2026).

Menurutnya, Pasar Kebalen sudah berkembang sebagai pasar transit sejak era kolonial. Pedagang dan petani dari wilayah timur Malang, seperti Kedungkandang, Wajak, hingga Tumpang, datang membawa hasil dagangan untuk kemudian dijual atau dikulak di kawasan tersebut.

Para pedagang tersebut tidak menetap di Kebalen. Setelah barang dagangannya habis atau dibeli oleh pedagang lain, mereka kembali ke daerah asal masing-masing.

“Pasar itu selain menjadi pasar transit, petani dari daerah-daerah timur datang, terus menggelar barang dagangan di situ. Pembelinya kulakan di situ, lalu habis kulakan terus pulang. Pedagangnya juga langsung pulang,” jelasnya.

Kondisi tersebut membuat aktivitas di Pasar Kebalen hanya berlangsung selama beberapa jam. Setelah pedagang dan pembeli meninggalkan lokasi, kawasan tersebut kembali digunakan sebagai akses jalan.

“Karena itulah disebut Pasar Krempyeng, pasar sesaat. Ramai, terus habis itu hilang,” kata Agung.

Selain disebut Pasar Krempyeng, aktivitas perdagangan di Kebalen juga dapat dipahami sebagai bentuk pasar tumpah. Yakni kegiatan jual beli yang berlangsung secara spontan di ruang publik ketika pedagang dan pembeli berkumpul di luar area pasar utama.

Sementara itu, mengenai asal-usul nama Kebalen, Agung mengatakan masih terdapat sejumlah versi. Salah satunya mengaitkan nama tersebut dengan penyebutan “Kabalon” dalam Serat Pararaton. Namun, hubungan antara Kabalon dengan nama Kebalen saat ini belum dapat dipastikan.

“Apakah Kabalon ini berubah menjadi kata Kebalen, itu masih belum tahu,” katanya.

Agung juga menyebut ada cerita lain yang berkembang mengenai kawasan Kebalen pada sekitar 1970-an hingga 1980-an. Saat itu, kawasan tersebut disebut pernah dikenal sebagai salah satu lokasi prostitusi. Bahkan, terdapat sebuah hotel yang digunakan sebagai tempat tinggal para pekerja seks, sehingga kawasan tersebut disebut-sebut memiliki kemiripan dengan kawasan prostitusi seperti Dolly di Surabaya.

“Tahun 70-an, 80-an itu orang mengaitkan Kabalon dengan balon. Di situ ada prostitusi, ada hotel untuk para PSK. Mirip seperti Kampung Dolly,” jelasnya.

Namun, cerita mengenai prostitusi tersebut merupakan salah satu versi yang berkembang dalam sejarah kawasan Kebalen dan bukan penjelasan pasti mengenai asal-usul namanya.

Sementara secara administratif, nama Kebalen sendiri sudah tercatat dalam peta lama. Pada peta tahun 1882, kawasan tersebut tercatat sebagai Desa Kebalen. Penyebutan wilayah Kebalen kemudian berkembang dan pada 1946 mulai terbagi menjadi beberapa wilayah, termasuk Kebalen Wetan. (ber)

Baca berita ter-update di Google News Blok-a.com dan saluran Whatsapp Blok-a.com

Jurnalis sekaligus videographer Blok-a.com yang memfokuskan liputan pada isu pemerintahan, paeristiwa, kriminal dan pendidikan di Malang Raya.