Kota Malang, blok-a.com – Penulis buku asal Malang, Rinda Puspasari, meluncurkan buku terbarunya berjudul Untuk Perempuan 17 Tahun ke Atas pada Sabtu (24/10/2026). Peluncuran buku tersebut dikemas melalui acara bedah buku yang berlangsung di Café Mami Combi, Kota Malang.
Rinda menjelaskan, buku ini mengangkat perjalanan seorang perempuan dalam memahami dirinya dan mengambil keputusan sepanjang kehidupan, mulai dari fase sebelum menstruasi hingga dewasa dan memiliki anak.
Gagasan penulisan buku ini berangkat dari kegelisahan Rinda terhadap kesiapan perempuan dalam menghadapi berbagai perubahan ketika beranjak dewasa. Menurutnya, bekal pendidikan, nilai agama, moral, dan nasihat dari orang tua tidak selalu cukup untuk membantu seseorang mengambil keputusan ketika berhadapan dengan perasaan, keinginan, serta tekanan lingkungan.
Buku yang ditulis selama sekitar satu tahun ini dikemas dalam bentuk cerita nonfiksi dengan tokoh utama bernama Nara. Kisah Nara disusun berdasarkan kejadian nyata yang kemudian dirangkai dengan pengalaman dan interaksinya bersama teman serta lingkungan sekitar.
Melalui perjalanan tokoh tersebut, pembaca diajak mengenali berbagai fase kehidupan perempuan, termasuk perubahan tubuh dan hormon, munculnya ketertarikan terhadap lawan jenis, perkembangan hasrat seksual, hingga pertimbangan terhadap risiko dari setiap keputusan.
Rinda mengatakan, buku ini juga dapat menjadi bacaan pendamping pendidikan seks yang telah diperoleh anak di sekolah. Ia berupaya menyampaikan pembahasan tersebut melalui cerita dengan bahasa sederhana agar lebih mudah dipahami pembaca dari berbagai kelompok usia, termasuk anak-anak dan remaja.
“Kesulitannya adalah saya harus menuliskannya yang bisa dipahami anak SD, bahasanya yang sederhana, bukan bahasa-bahasa ilmiah atau bahasa-bahasa yang terlalu menggurui,” ujar Rinda.
Menurutnya, buku ini tidak dimaksudkan sebagai tutorial yang memberikan petunjuk mutlak mengenai bagaimana seseorang harus menjalani hidup. Sebaliknya, cerita Nara diharapkan dapat menjadi semacam peta atau kompas bagi pembaca untuk mengenali situasi yang mungkin dihadapi, mempertimbangkan risiko, serta memahami konsekuensi dari pilihan yang diambil.
Pembaca juga diajak untuk tidak sekadar mengikuti keinginan atau perasaan sesaat, tetapi mulai mempertanyakan alasan di balik keputusan yang dibuat. Dengan begitu, kesadaran untuk menjaga diri dan memahami batasan dapat tumbuh melalui proses refleksi setelah membaca cerita.
“Bukan diarahkan, diberi peta. Jadi buku saya ini seperti kompas atau peta. Jadi kalau kamu begini, masuknya begini. Kalau begini, kemungkinannya begini,” jelasnya.
Rinda menambahkan, cerita dalam buku tersebut tidak hanya berfokus pada satu fase kehidupan Nara. Setiap bagian saling berkaitan dan menggambarkan perjalanan tokoh utama ketika berhadapan dengan perubahan diri, hubungan pertemanan, serta lingkungan sosialnya.
Karena itu, buku ini tidak semata-mata membahas persoalan perempuan yang memasuki usia dewasa. Pembahasannya juga menyentuh pentingnya kemampuan mengenali diri, memahami batas, mempertimbangkan risiko, dan bertanggung jawab atas keputusan yang diambil.
Meski judulnya menyasar perempuan berusia 17 tahun ke atas, Rinda berharap buku ini dapat dibaca oleh berbagai kalangan, termasuk anak-anak, remaja, orang tua, dan guru. Ia ingin buku tersebut menjadi bahan pendamping untuk membuka percakapan mengenai perubahan diri dan kesiapan menghadapi berbagai situasi dalam kehidupan.
Bagi orang tua dan pendidik, buku ini diharapkan dapat membantu memperluas cara pandang dalam mendampingi anak. Tidak hanya mengajarkan aturan tentang hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan, tetapi juga membangun kemampuan anak untuk memahami alasan di balik aturan tersebut.
Rinda menilai, anak yang terbiasa mematuhi aturan belum tentu siap mengambil keputusan secara mandiri ketika menghadapi situasi baru. Oleh sebab itu, kemampuan mengenali diri dan mempertimbangkan konsekuensi menjadi bekal penting ketika anak mulai memperoleh kebebasan yang lebih besar.
“Anak yang penurut belum tentu anak yang sudah siap memilih. Pada akhirnya kita tidak mungkin menjaga anak perempuan selamanya hanya dengan pagar. Suatu hari ia harus mempunyai kompasnya sendiri,” katanya.
Melalui Untuk Perempuan 17 Tahun ke Atas, Rinda berharap pembaca tidak harus langsung menemukan jawaban atas seluruh persoalan hidupnya. Ia justru ingin cerita dalam buku tersebut mendorong pembaca untuk berhenti sejenak, melihat kembali pengalaman yang pernah dijalani, dan mulai mempertanyakan alasan di balik setiap pilihan.
Menurutnya, kesadaran tidak menjamin seseorang selalu mengambil keputusan yang benar. Namun, kemampuan memahami diri dapat membantu seseorang lebih bijak dalam mempertimbangkan pilihan dan menerima konsekuensinya. (bob)








