Mojokerto, blok-a.com – Seorang driver ojek online (ojol) di Kota Mojokerto, Sutaryoko (49) atau akrab disapa Pak Yoko, melakukan inovasi dengan mengubah sistem bahan bakar mobilnya dari BBM jenis pertalite menjadi BBG (bahan bakar gas) LPG. Langkah ini ia ambil demi menekan biaya operasional harian.
Warga Kelurahan Pangreman itu mengaku termotivasi mencari alternatif yang lebih hemat, mengingat tingginya biaya bahan bakar saat bekerja sebagai driver online.
“Kalau dulu pakai pertalite bisa habis Rp100 ribu sampai Rp150 ribu per hari. Sekarang pakai elpiji cuma sekitar Rp40 ribu untuk dua tabung,” ujarnya, Sabtu (18/4/2026).
Dengan dua tabung LPG, ia mampu menempuh jarak sekitar 120 kilometer dalam kota, bahkan bisa mencapai 150 kilometer untuk perjalanan luar kota, tergantung kondisi jalan.
Tak hanya soal efisiensi, Pak Yoko juga menilai penggunaan LPG tidak berdampak buruk terhadap performa mesin. Bahkan, menurutnya tarikan kendaraan terasa lebih ringan.
“Kalau pakai BBG ini justru lebih ringan. Secara kualitas juga bagus, karena nilai RON LPG lebih tinggi dibanding pertalite,” jelasnya.
Ia juga mengaku kondisi oli mesin lebih bersih dibanding saat menggunakan BBM. “Kalau dulu oli cepat hitam, sekarang lebih bersih,” tambahnya.
Selama enam bulan menggunakan sistem BBG, ia memastikan tidak pernah mengalami kerusakan mesin. Meski demikian, ia tetap mengutamakan faktor keamanan, seperti rutin mengganti seal tabung LPG dan memastikan tidak ada kebocoran sebelum digunakan.
Untuk mengantisipasi kehabisan gas di jalan, mobilnya juga masih dilengkapi sistem BBM konvensional. Perpindahan dari LPG ke pertalite bisa dilakukan secara otomatis tanpa mematikan mesin.
“Kalau gas habis, tinggal pindah ke BBM biasa, tidak perlu berhenti,” katanya.
Inspirasi penggunaan BBG ini ia dapatkan dari media sosial dan platform berbagi video. Ia kemudian ke salah satu bengkel pemasangan alat untuk mengubah mobilnya menggunakan BBG.
Penghematan yang dirasakan pun cukup signifikan. Ia mencontohkan perjalanan ke Semarang yang hanya menghabiskan sekitar Rp80 ribu untuk sekali jalan menggunakan LPG, atau Rp160 ribu pulang pergi. Bandingkan dengan pertalite yang bisa mencapai Rp400 ribu hingga Rp500 ribu untuk perjalanan yang sama.
“Selisihnya jauh sekali. Ini sangat membantu untuk operasional sehari-hari,” pungkasnya.
Inovasi sederhana yang dilakukan Pak Yoko ini menjadi contoh bagaimana pelaku transportasi online dapat beradaptasi dengan kondisi ekonomi, sekaligus mencari solusi efisien dalam menjalankan pekerjaannya.(sya/bob)








