Tahun Kuda Api Kembali Setelah 60 Tahun, Kelenteng Eng An Kiong Ingatkan Sejarah 1966

Umat Tridharma saat menjalankan sembahyang pada momen Tahun Baru Imlek 2026. (blok-a.com / M Berril Labiq)
Umat Tridharma saat menjalankan sembahyang pada momen Tahun Baru Imlek 2026. (blok-a.com / M Berril Labiq)

Kota Malang, blok-a.com – Perayaan Tahun Baru Imlek 2577 di Kelenteng Eng An Kiong menjadi momentum pengingat sejarah. Berdasarkan kalender lunar, perayaan Imlek 2026 menandai dimulainya Tahun Shio Kuda Api, yang dalam penanggalan Tionghoa dikenal sebagai tahun Bing Wu. Terakhir, Shio Kuda Api muncul pada 1966, tahun yang dikenang penuh gejolak di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia.

Dalam astrologi Tiongkok, Tahun Kuda Api dikenal sebagai kombinasi energi yang kuat dan dinamis. Siklus ini terbentuk dari pertemuan cabang bumi (shio) dan cabang langit (unsur) yang berputar setiap 60 tahun. Tahun 2026 menjadi pertemuan kembali unsur api besar (Bing) dengan shio kuda (Wu), yang sama seperti pada 1966.

Secara historis, tahun 1966 menjadi periode penting. Di Tiongkok, tahun tersebut dikenal sebagai awal Revolusi Kebudayaan yang dipimpin oleh Mao Zedong, Ketua Partai Komunis Tiongkot (PKT) dan memicu gejolak sosial-politik besar.

Sementara di Indonesia, periode yang sama identik dengan peristiwa Gerakan 30 September (G30S) yang berdampak luas terhadap stabilitas politik, sosial, dan kehidupan masyarakat termasuk warga Tionghoa.

Humas Kelenteng Eng An Kiong, David Kurniawan, mengingatkan kembali catatan sejarah tersebut saat menjelaskan makna Tahun Bing Wu.

“Ingat peristiwa tahun 66? tahun itu adalah tahun Bing Wu. Di belahan dunia sebelah utara, di Tiongkok ada yang namanya Revolusi Budaya. Itu yang banyak memakan korban. Di tahun 66 Indonesia mengalami satu peristiwa kelam,” ujarnya, saat diwawancari blok-a.com, Selasa (17/2/2026).

Menurutnya, refleksi sejarah ini menjadi alasan mengapa doa di awal tahun memiliki makna mendalam. Umat tidak hanya memohon keberkahan pribadi, tetapi juga keselamatan bangsa di tengah potensi perubahan besar yang bisa terjadi dalam siklus Kuda Api.

“Kita berharap di tahun 2026 tidak terjadi sesuatu fenomena yang kurang baik. Karena kita percaya sekali ya bahwa kalau negara ini kuat, negara ini aman, ekonominya stabilitasnya pasti baik. Itu harapan dari kami,” katanya.

David juga menyampaikan pesan khusus kepada para pemimpin yang saat ini memegang amanah jabatan. Ia berharap momentum Tahun Kuda Api dimaknai sebagai pengingat moral bagi para pengambil kebijakan.

“Kita berharap di tahun Shio Kuda Api ini, semoga para pemimpin amanah, lebih terbuka mata dan hatinya, lebih mendengar rakyat, bisa memberikan contoh dan aksi secara riil supaya yang dikerjakan itu memberikan dampak positif kepada rakyat,” tuturnya.

Lebih jauh, ia memaknai simbol Kuda Api sebagai etos kerja yang kuat namun tetap terkendali. Dikatakannya, energi besar yang melekat pada shio ini seharusnya diterjemahkan menjadi kerja nyata yang terarah.

“Kuda Api ini kami maknai sebagai dorongan agar para pemimpin bekerja sekeras tenaga—kuat seperti kuda. Tapi kekuatan itu tidak boleh liar, harus terarah supaya benar-benar memberi hasil untuk rakyat. Intinya bekerja seperti kuda, tapi yang terpenting ada hasilnya,” pungkasnya. (ber/bob)