Tiga Tahun Hampir 2.000 Kasus, Dinkes Kota Malang Tetapkan Waspada DBD

Husnul Muarif menyatakan bahwa Dinkes Kota Malang akan mengerahkan sebanyak mungkin petugas medis di Pemilu 2024 nantinya.
Kadinkes Kota Malang, Husnul Muarif (blok-a/Satria Akbar Sigit)

Kota Malang, blok-a.com – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Malang menetapkan status waspada terhadap demam berdarah dengue (DBD) yang hingga kini masih menjadi ancaman kesehatan masyarakat. Meski jumlah kasus menunjukkan tren penurunan, penyakit yang ditularkan nyamuk Aedes aegypti tersebut masih ditemukan setiap tahun dengan angka yang tergolong tinggi.

Kepala Dinkes Kota Malang, dr. Husnul Muarif, menyebut upaya paling efektif dalam menekan kasus DBD adalah melalui Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN), baik dengan metode 3M maupun 3M Plus.

“DBD tidak ada kalau nyamuknya tidak ada. Salah satu yang paling efektif itu PSN, baik melalui 3M maupun 3M Plus,” ujar Husnul, Minggu (25/1/2026).

Menurutnya, PSN perlu kembali digalakkan secara masif, tidak hanya di lingkungan masyarakat, tetapi juga di seluruh instansi pemerintah maupun swasta. Kegiatan seperti Jumat Bersih dinilai dapat membantu menghilangkan tempat-tempat perindukan nyamuk Aedes aegypti.

Husnul menjelaskan, apabila tempat perindukan nyamuk dapat dihilangkan, maka siklus hidup nyamuk dari telur, larva, hingga dewasa bisa ditekan secara maksimal. Dengan begitu, rantai penularan DBD juga dapat diputus.

“Kalau perindukan nyamuk kita hilangkan, rantai penularannya juga bisa ditekan,” katanya.

Ia menambahkan, Dinkes Kota Malang terus mendorong peran aktif masyarakat dengan memulai PSN dari lingkungan keluarga. Masyarakat diimbau rutin memeriksa dan membersihkan tempat-tempat yang berpotensi menampung air bersih, seperti bak mandi, pot bunga, hingga wadah minum hewan.

“Masyarakat harus waspada. Jangan takut, tapi mulai dari keluarga dulu. Kalau satu rumah, lalu tetangganya juga sama, maka wilayah itu bisa berkurang tempat perindukan nyamuknya,” jelasnya.

Saat ini, Angka Bebas Jentik (ABJ) di Kota Malang masih berada di kisaran 92 persen, belum mencapai target ideal 95 persen. Selisih tersebut dinilai menjadi salah satu faktor masih ditemukannya kasus DBD di Kota Malang.

Selain itu, anomali cuaca juga disebut berpengaruh terhadap peningkatan kasus. Curah hujan yang tinggi memicu munculnya genangan air bersih di berbagai tempat yang sering luput dari perhatian masyarakat.

“Nyamuk Aedes aegypti itu berkembang di air bersih. Jadi genangan air hujan di pot, tempat penampungan, atau wadah kecil itu justru berbahaya,” ujar Husnul.

Menghadapi puncak kasus yang biasanya terjadi pada Maret dan April, Dinkes Kota Malang telah menginstruksikan 16 puskesmas dan 33 pustu untuk lebih aktif melakukan edukasi serta menjadi mediator gerakan PSN di masyarakat.

Upaya kewaspadaan tersebut dilakukan menyusul masih tingginya temuan kasus DBD di Kota Malang dalam tiga tahun terakhir.

Berdasarkan data Dinkes Kota Malang, pada 2023 tercatat 462 kasus DBD dengan empat kematian. Jumlah tersebut meningkat pada 2024 menjadi 777 kasus dengan empat kematian, sementara pada 2025 terdapat 715 kasus dengan lima kematian. Total kasus selama periode 2023–2025 mencapai 1.954 kasus.

Selama periode tersebut, Kecamatan Sukun menjadi wilayah dengan jumlah kasus tertinggi. Pada 2024 dan 2025, kasus DBD di kecamatan tersebut masing-masing mencapai 192 kasus.

“Setiap tahun DBD masih ada dan jumlahnya cukup besar. Artinya, DBD masih menjadi ancaman kesehatan di Kota Malang,” tegas Husnul.

Dinkes Kota Malang menargetkan kasus DBD pada 2026 dapat ditekan secara signifikan melalui keterlibatan aktif seluruh elemen masyarakat dalam PSN.

“Pasti harus kita tekan di tahun 2026 ini dan jangan sampai kasus melonjak,” pungkasnya. (bob)