Kabupaten Malang, blok-a.com – Pedagang takjil saat bulan Ramadan cukup marak ditemui di Kabupaten Malang. Salah satunya yakni di Kecamatan Kepanjen.
Ibu Kota Kabupaten Malang ini memiliki sejumlah titik Pasar Takjil, diantaranya di area Kantor Pos. Kemudian, sepanjang Jalan Raya H.M Sun’an atau yang kerap disebut Pasar Takjil Dinas Pendidikan, karena lokasinya yang tepat di sepanjang jalan Dinas Pendidikan Kabupaten Malang.
Di area Pasar Takjil di Kecamatan Kepanjen Kabupaten Malang itu tak jarang para pedagang takjil memanfaatkan bahu jalan. Contohnya, di sepajang Jalan Ahmad Yani Kepanjen, mulai dari Polres Malang hingga ujung perempatan arah ke selatan. Termasuk juga depan Pasar Kepanjen.
Salah satunya yakni pedagang Es Teh Gembul, Bhaktiar. Pedagang es teh yang baru berjualan 1 tahun ini memanfaatkan bahu jalan untuk menjajakan dagangannya, tepat di depan Pasar Kepanjen, Kabupaten Malang.
Meskipun tidak berjualan di area pasar takjil, namun lapaknya terpantau tak pernah sepi pembeli terutama di jam-jam ngabuburit.
“Sasaran saya memang orang-orang yang lalu-lalang, karena kalau di pasar takjil banyak saingannya. Menurut saya ini juga tempat strategis, depan pasar” ujar Bhaktiar saat ditemui Blok-a.com, Minggu (24/5/2024).
Hanya berjualan di atas gerobak berukuran kurang lebih dua meter persegi dengan poster yang bertuliskan ‘Teh Gembul’. Meskipun demikian, menu yang ia jual tidak hanya es teh saja.
Melainkan ada juga es jeruk, lemon tea, chocolatos, beng-beng, aneka pop ice dan masih banyak menu minuman dingin lainnya.
“Tapi yang paling best seller masih es teh, yang lain juga tetep ada yang beli tapi paling banyak teh,” singkatnya.
Bapak dua anak ini ‘nekat’ jualan dengan modal awal hanya Rp5 juta. Namun, keputusan bulatnya kala itu kini telah membuahkan hasil manis.
Dari modal yang tak seberapa itu, kini usahanya memiliki pelanggan. Bahkan, sejumlah pedagang kios Pasar Kepanjen mulai menjadi pelanggan setianya beberapa bulan terakhir ini.
“Biasanya juga kalau sudah langganan, ada yang wa pesan. Kemarin juga ada pesanan untuk buka puasa, bisa diambil bisa diantar,” imbuhnya.
Omsetnya kian hari kian melejit. Awalnya, hanya membawa puluhan ribu perhari, kini bisa mengantongi lebih. Dengan modal ‘bondo nekat’, kini setiap harinya ia bisa meraup keuntungan hingga ratusan ribu hanya dalam hitungan jam.
“Modal Rp5 juta, itu keseluruhan mulai dari rombong sampai bahan-bahan. Sekarang omset kotornya alhadulillah bisa Rp500 ribu lebih perhari kalau bulan puasa. Bukanya mulai jam tiga sore sampai habis trawih saja sudah habis biasanya, alhamdulillah,” syukurnya.
Dari hasil omsetnya, ia gunakan untuk kebutuhan sehari-hari. Selebihnya, ia tabung sedikit demi untuk mewujudkan keinginannya yakni membuka usaha serupa di tempat yang berbeda.
“Alhamdulillah bisa menghidupi istri dan dua anak, kalau rejeki pasti gak kemana. Semoga bisa secepatnya buka di tempat baru,” pungkasnya. (ptu)








