70 Truk Sedimen Diangkat, Upaya Tekan Banjir di Jalan Letjen Sutoyo Malang

Upaya mengurai genangan di kawasan Jalan Letjen Sutoyo terus dikebut. Dinas PUPRPKP Kota Malang melakukan normalisasi
70 Truk Sedimen Diangkat, Upaya Tekan Banjir di Jalan Letjen Sutoyo Malang (blok-a/Bob Bimantara Leander)

Kota Malang, blok-a.com – Upaya mengurai banjir di kawasan Jalan Letjen Sutoyo terus dikebut. Dinas PUPRPKP Kota Malang melakukan normalisasi saluran sebagai langkah antisipasi untuk mencegah sedimentasi yang kerap memicu luapan air ke jalan.

Kepala DPUPRPKP Kota Malang, Dandung Djulharjanto, mengatakan kegiatan ini merupakan rutinitas yang dilakukan setiap awal musim kemarau.

“Ini merupakan langkah antisipasi (mencegah sedimentasi). Seperti tahun-tahun sebelumnya, di awal musim kemarau ini kami melakukan pembersihan sedimen di jalur Jalan Letjen Sutoyo sampai ke arah selatan,” ujarnya.

Normalisasi dilakukan sepanjang kurang lebih 1 kilometer. Pengerjaan dimulai dari area Telkom ke arah barat, lalu menyusuri Jalan Letjen Sutoyo hingga menyeberang ke arah selatan menuju kawasan Batanghari.

“Kurang lebih sepanjang 1 kilometer,” ucapnya.

Dandung menjelaskan, pengerjaan telah berlangsung selama dua minggu dan kini memasuki pekan ketiga. Dalam periode tersebut, volume sedimen yang diangkat cukup besar.

“Sudah terkumpul kurang lebih 70 dump truck sedimen. Satu dump truck kapasitasnya sekitar 6 sampai 7 meter kubik. Isinya macam-macam, ada sedimen (lumpur/tanah) dan juga sampah-sampah,” jelasnya.

Menurutnya, genangan di kawasan tersebut dipicu oleh penyempitan saluran yang dipenuhi endapan sedimen. Kondisi saluran yang berkelok dan bertemu dengan aliran lain turut memperparah situasi.

“Utamanya genangan terjadi karena adanya penyempitan di sana. Di titik ini juga terlihat ada penyempitan dan tumpukan sedimen yang cukup tinggi, sehingga air sering naik,” katanya.

Ia menambahkan, debit air di saluran tersebut cukup besar. Ketika aliran tersumbat sedimen dan arah aliran berbelok, air akan tertahan dan meluap hingga ke badan jalan.

“Ketika saluran di sini tertutup sedimen dan arah sunggunya berbelok, maka aliran air akan tertahan dan akhirnya meluap ke jalan raya,” ungkapnya.

Saluran ini merupakan saluran irigasi yang mengalirkan air ke sejumlah wilayah di timur Kota Malang, seperti Priyo Sudarmo, Sulfat, Sawojajar hingga Amrong.

Dandung juga menyoroti perubahan tata guna lahan sebagai faktor meningkatnya genangan. Berkurangnya area resapan akibat pembangunan perumahan membuat volume air yang masuk ke saluran semakin besar, sementara dimensi saluran tidak berubah.

“Dulu di area atas masih banyak lahan resapan. Sekarang sudah menjadi area perumahan, sehingga volume air yang masuk ke saluran semakin besar. Sementara itu, ukuran saluran kita dari dulu tidak berubah,” terangnya.

Selain penanganan rutin melalui normalisasi, Pemkot Malang juga menyiapkan solusi jangka panjang melalui proyek NUFReP (National Urban Flood Resilience Project) berupa pembangunan sudetan yang akan mengalirkan air langsung ke Sungai Brantas.

“Nanti akan ada proyek Nufrep, yaitu pembuatan sudetan. Jadi, air dari arah sana akan ditarik langsung ke arah Sungai Brantas,” jelasnya.

Namun, ia menegaskan bahwa normalisasi yang saat ini dilakukan tidak berkaitan langsung dengan proyek tersebut.

“Bukan, ini murni upaya rutin untuk mengurangi genangan. Persiapan Nufrep memiliki jadwal salurannya sendiri nanti,” tegasnya.

Saat ini, proyek NUFReP masih dalam tahap koordinasi dan evaluasi bersama BBWS serta pihak kementerian, dan belum memasuki tahap penandatanganan kontrak.

Jika penanganan di kawasan ini berjalan optimal, dampaknya diperkirakan akan dirasakan hingga wilayah hilir seperti Purwantoro, Bukirsari, Kedawung, Bajang Ratu hingga Bantaran.

Selain di lokasi ini, normalisasi juga dilakukan di berbagai titik melalui program rutin “GASS” (Gerakan Angkat Sampah dan Sedimen) di tiap kecamatan.

“Ya, salah satu yang paling besar memang di sini karena sungainya besar dan volume sedimennya sangat banyak,” pungkasnya. (bob)