Kota Malang, blok-a.com – Tingkat pengangguran di Kota Malang cukup tinggi dibanding rata-rata tingkat pengangguran di Jawa Timur dan Indonesia.
Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Malang, pada tahun 2022 lalu tingkat pengangguran di Kota Malang mencapai 7,66 persen.
Sementara untuk Jawa Timur dan Indonesia tingkat pengangguran di bawah 6 persen.
Tingkat pengangguran 7,66 persen itu dihitung dari angkatan kerja pada tahun 2022 yang mencapai 452.836.
Angkatan kerja di Kota Malang yang mencapai ratusan ribu itu terdapat 34.678 jiwa yang menganggur.
“Jumlah pengangguran di Kota Malang mencapai 34.678 jiwa,” ujar staf BPS Kota Malang, Yenita ke blok-a.com.
Meskipun begitu tingkat pengangguran di Kota Malang ini berdasarkan data menurun dari tahun ke tahun. Dibanding tingkat pengangguran pada tahun 2020 dan 2021, data tingkat pengangguran pada tahun 2022 ini menurun.
Pada tahun 2020 dan 2021, tingkat pengangguran di Kota Malang mencapai 9 persen.
Sementara itu, data tingkat pengangguran ini diambil melalui sampel dan blok sensus yang ditentukan oleh BPS pusat.
“Tidak ada karakteristik khusus terkait sampel sakernas, untuk pemilihan sampel sendiri kami menggunakan aplikasi khusus dari pusat,” jelasnya.
BPS memiliki empat kategori yang termasuk ke dalam pengangguran, yaitu mencari pekerjaan, mempersiapkan usaha, putus asa: merasa tidak mungkin mendapat pekerjaan, dan sudah mendapat pekerjaan namun belum mulai bekerja.
Kisah Bahrul Susah Mencari Kerja di Kota Malang
Tingkat Pengangguran di Kota Malang sendiri harus diketahui alasannya dari pencari pekerjaan. Mengapa mereka masih sulit mencari pekerjaan. Berikut adalah testimoni dari pencari kerja di Kota Malang:
Seorang lulusan sarjana pertanian ini mengaku kesulitan saat mencari pekerjaan.
Bahrul, seorang laki-laki berusia 28 tahun merasa kesulitan saat dirinya mencari pekerjaan di Kota Malang.
Bahrul adalah seorang lulusan pertanian dari salah satu kampus swasta ternama di Kota Malang. Setelah lulus beberapa tahun lalu, dia mengaku masih menganggur.
“Belum kerja sampai sekarang,” ujar Bahrul pada wartawan blok-a.com.
Berdasarkan keterangan dari Bahrul, lowongan pekerjaan untuk lulusan pertanian memang lebih sedikit jika dibandingkan dengan jurusan lain.
Dia sudah melihat sejumlah lowongan pekerjaan, namun tak ada satu pun lowongan sesuai kriterianya sebagai lulusan pertanian.
Lantas, Bahrul mengaku bahwa ingin mencari pekerjaan di luar Kota Malang, namun tidak diperbolehkan oleh orang tuanya. Dia pun menjadi satu jiwa yang menyumbang angka di tingkat pengangguran Kota Malang.
“Pengennya ke luar Malang tapi nggak dibolehin sama orang tua, jadi ya mau gimana lagi?” tutur Bahrul.
Pria yang bergelar sarjana pertanian itu mengatakan bahwa saat dirinya mencari pekerjaan, banyak lowongan yang mengharuskan pengalaman kerja selama 3 tahun. Sementara dia belum pernah bekerja sama sekali karena kesulitan mencari pekerjaan.
“Kalau untuk lulusan pertanian di Malang itu yang aku temuin biasanya kriterianya pengalaman minimal 3 tahun di bidangnya,” katanya.
Bahrul juga menambahkan bahwa faktor usia juga mempengaruhi dalam mendapat pekerjaan.
“Selain itu ada kriteria usia maksimal kalau fresh graduate,” tambah Bahrul.
(len/bob)







