Dari Perumahan ke Halte Trans Jatim, Dishub Kota Malang Siapkan Feeder Angkot

Kepala Dishub Kota Malang, Widjaja Saleh Putra saat diwawancara, Senin (2/11/2026) (foto: blok-a.com/Bob Bimantara Leander)
Kepala Dishub Kota Malang, Widjaja Saleh Putra saat diwawancara, Senin (2/11/2026) (foto: blok-a.com/Bob Bimantara Leander)

Kota Malang, blok-a.com – Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Malang mulai menyiapkan layanan feeder untuk mendukung operasional Trans Jatim Koridor 2 Malang Raya yang telah beroperasi sejak 31 Oktober 2026.

Layanan feeder tersebut nantinya menghubungkan kawasan permukiman dengan halte Trans Jatim. Dengan begitu, masyarakat yang tinggal di kawasan yang tidak dilalui bus Trans Jatim tetap bisa mengakses transportasi umum tersebut.

Kepala Dishub Kota Malang, Widjaja Saleh Putra, mengatakan layanan feeder direncanakan mulai didukung anggaran Pemerintah Provinsi Jawa Timur (Pemprov Jatim) pada 2027.

Pada tahun pertama, seluruh pengaturan teknis dan penyediaan layanan akan menjadi kewenangan pemerintah provinsi melalui skema Buy The Service (BTS).

“Feeder ini nanti mendukung Trans Jatim 1 maupun Trans Jatim 2. Dukungannya dengan cara nanti pemerintah daerah provinsi menyediakan anggaran berupa Buy The Service,” jelas Widjaja.

Dia menambahkan, pemerintah provinsi nantinya akan bekerja sama dengan Pemkot Malang. Sebab, pada tahun kedua, pengelolaan feeder direncanakan diserahkan kepada pemerintah daerah, dalam hal ini Kota Malang.

Untuk armadanya, feeder direncanakan menggunakan angkutan kota (angkot). Namun, Pemprov Jatim masih menentukan skema dan jenis angkutan yang akan digunakan.

Menurut Widjaja, penggunaan angkot baru tersebut sekaligus diharapkan membawa perubahan terhadap sistem transportasi umum di Kota Malang.

“Pakai angkot skemanya menggunakan angkot yang sementara ini masih ditentukan oleh provinsi adalah angkutan kota yang baru. Alasannya biar ada perubahan di transportasi Kota Malang,” ujarnya.

Berbeda dengan layanan bus utama yang menghubungkan Terminal Madyopuro dengan Terminal Talangagung, feeder nantinya tidak beroperasi dengan pola terminal ke terminal.

Layanan tersebut justru diarahkan untuk menjangkau kawasan perumahan dan mengantarkan masyarakat menuju halte-halte Trans Jatim. Contohnya di daerah perumahan-perumahan di Buring dan Sawojajar.

“Tidak harus di terminal, tetapi yang menuju ke halte-halte,” terang Widjaja.

Terkait rute, Widjaja menyebut Dishub Kota Malang sebenarnya telah memiliki kajian mengenai pengembangan feeder. Namun, penentuan jalur dan titik layanan masih menunggu keputusan dari Pemprov Jatim.

Sementara itu, skema tarif bagi pengguna feeder juga belum diputuskan. Pemerintah provinsi masih akan menentukan apakah layanan tersebut diberikan secara gratis atau menggunakan tarif subsidi.

“Pengguna belum ditentukan oleh provinsi, bisa jadi gratis, bisa jadi subsidi,” ungkapnya.

Widjaja menyebut konsep layanan feeder tersebut nantinya kurang lebih serupa dengan transportasi pengumpan Wira-Wiri di Surabaya maupun Jak Lingko di Jakarta. Melalui layanan ini, masyarakat diharapkan memiliki akses yang lebih mudah untuk menjangkau halte Trans Jatim Koridor 1 maupun Koridor 2 Malang Raya.

”Kalau di Surabaya ada Wira-Wiri dan di Jakarta ada Jak Lingko. Seperti itu konsepnya,” tutupnya. (bob)

 

Baca berita ter-update di Google News Blok-a.com dan saluran Whatsapp Blok-a.com

Redaktur pelaksana sekaligus Jurnalis blok-a.com yang memfokuskan liputan pada isu sosial, politik, dan peristiwa terkini di Malang Raya.