Mahasiswa Pendatang Bikin Kota Malang Tambah Macet?

Kemacetan di Jalan Mertojoyo Kota Malang (blok-A.com/Syams Shobahizzaman)
Kemacetan di Jalan Mertojoyo Kota Malang (blok-A.com/Syams Shobahizzaman)

 

Kota Malang, Blok-a.com – Sebagai rujukan sekolah tinggi di beberapa wilayah, Kota Malang berhasil menarik banyak pendatang. Pasalnya, di Kota Malang sendiri terdapat 62 perguruan tinggi baik negeri maupun swasta.

Berbagai titik kemacetan pun muncul di Kota Malang akhirnya resahkan warga lokal. Terutama, kala musim hujan yang saat ini mengguyur. Di tengah banjir yang terjadi, banyak titik kemacetan di Kota Malang yang harus dialami. Misalnya jalan Ranugrati, jalan Muharto, dan ruas jalan Ciliwung.

Untuk kawasan mahasiswa sendiri, banyak kemacetan yang sering terjadi di Jalan Sumbersari, Ruas jalan Dinoyo hingga Tlogomas, dan Jembatan Tunggulmas. Kemacetan tersebut sangat dengan kawasan mahasiswa, seperti kampus dan indekos.

Belum lagi, wilayah-wilayah tempat nongkrong muda-mudi yang kerap terjadi di bundaran Pesawat ruas jalan Soekarno Hatta hingga Sudimoro, Omah Kampus di Sudimoro, dan Sumbersari.

Universitas Brawijaya sendiri menerima ribuan mahasiswa setiap tahunnya. Hal itu disampaikan oleh Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Dr. Setiawan Noerdajasakti, S.H., M.H.

“Untuk tahun ini saja kami menerima 72 ribu mahasiswa,” kata dia, pada (27/11/2023).

Menurut dia, UB sendiri menerima banyak mahasiswa pendatang dari berbagai daerah, seperti Jabodetabek, Jawa Barat, dan Jawa Timur. Juga menerima mahasiswa luar pulau. Hal itu juga diakuinya membawa dampak kepadatan kendaraan di Kota Malang.

Dia menyebut memang datangnya mahasiswa luar tersebut membawa dampak kepadatan lalu lintas. Namun, pihaknya tidak bisa berbuat banyak selain memberikan himbauan soal keselamatan berkendara yang baik.

“Karena memang ribuan mahasiswa ini membawa dampak kepadatan lalu lintas, maka kami himbau dan ingatkan bahwa keselamatan berkendara itu penting bagi mereka. Jangan sampai mereka lupa. Seperti ungkapan orang Jawa, ‘budhal slamet, mulih slamet’” lanjutnya.

Meski berbagai upaya rekayasa lalu lintas telah dilakukan, namun masih banyak kemacetan yang terjadi, terutama di jam sibuk. Seperti pukul 15.00 WIB hingga 19.00 WIB malam pada jam pulang kerja, atau pada pukul 06.00 WIB hingga 07.00 pagi pada jam berangkat sekolah dan bekerja.

Pengalaman macet itu dialami oleh ibu rumah tangga, Fatimah. Setiap pagi, dia harus bergumul dengan kemacetan. Ketika pagi, dia harus mengantar anaknya pergi ke sekolah di salah satu sekolah di Jalan Bandung.

“Ya saya harus berangkat jam 6 itu, soalnya Suhat macet, di Jalan Bandung itu macet,” ujar dia.

Untuk pulang pergi, dia bisa menghabiskan waktu sekitar 1 hingga 1,5 jam untuk mengantar sang anak.

Hal itu juga dialami oleh mahasiswa asli Malang, Valen. Mahasiswa UMM ini menyebut bisa menghabiskan waktu hingga 1 jam hanya untuk berangkat kuliah dari kontrakannya.

“Lewat jembatan Tunggulmas itu sih, macet banget. Belum kalau pas-pasan kendaraan-kendaraan besar di pertigaan orang mau ke arah Batu, kan?” ujarnya. (mg2/bob)