Kota Malang, Blok-a.com – Pemasangan pagar antisipasi bunuh diri di Jembatan Soekarno-Hatta ini dapat respon dari beberapa pihak. Pasalnya, kasus percobaan bunuh diri di jembatan tersebut memang cukup sering terjadi.
Menurut Kabid BPOK Asosiasi Psikologi Islam (API) wilayah Jawa Timur, Romi Anshorulloh, memang metode melompat dari jembatan untuk mengakhiri hidup perlu dipelajari kembali. Pasalnya, banyak kasus percobaan bunuh diri dan kasus mengakhiri hidup yang terjadi dengan berbagai cara. Namun, jembatan termasuk alternatif yang kerap dipilih.
“Banyak metode untuk BD seperti menenggak racun, gantung diri, dan lain-lain. Lompat jembatan ini dipilih banyak pertimbangan, bisa saja faktor kemudahan, prosesnya lebih cepat. Tentu ini perlu diteliti lebih lanjut lagi,” ujar dia, pada (8/12/2023).
Menurut dia, pemasangan pagar antisipasi bunuh diri di Jembatan Soekarno-Hatta tersebut sudah sangat bagus. Artinya, pemerintah dinilai terlibat aktif mengurangi akses untuk kemungkinan terjadinya bunuh diri.
Namun, Romi menyebut bahwa pemerintah perlu bersinergi lebih baik dan serius soal kasus ini. Pasalnya, bunuh diri di kota besar dipengaruhi oleh berbagai faktor. Seperti ekonomi, latar belakang keluarga, dan sosial.
“Tentu bisa melibatkan dinas lain, seperti Dinas Tenaga Kerja mengingat bunuh diri juga bisa disebabkan faktor ekonomi, Dinas Pemberdayaan dan Perlindungan Anak bisa dilibatkan maksimal dalam hal edukasi keluarga, Dinas Pendidikan juga demikian, melakukan lebih intensif tema kesehatan mental di sekolah,” beber dia.
Menurut dia, bunuh diri di Kota Malang memang bisa dipicu oleh banyak hal. Keputusan seseorang untuk mengakhiri hidup dialami dengan proses yang panjang. Resiliensi akan psikis untuk menghadapi tantangan hidup sudah tidak ditemukan. Terlebih, di kota besar, gaya hidup yang penuh tekanan memang bisa memicu stress dan depresi.
“Tentu gaya hidup yang penuh stress dan akhirnya depresi, cukup berkontribusi untuk keputusan bunuh diri. WHO sendiri menganggap BD (bunuh diri) ini adalah isu yang harus sangat serius ditangani bersama.” ujar dia.
Terkait biaya bantuan tenaga profesional untuk kesehatan mental yang mahal, Romi menyebut jangan khawatir. Pasalnya, banyak tenaga psikolog yang tersebar di puskesmas dengan harga terjangkau. Namun, selama ini masih belum banyak diketahui oleh masyarakat.
“Sosialisasi keberadaan psikolog puskesmas ini perlu makin digalakan. Bila belum ada, tentu ini sudah sangat mendesak, supaya pemerintah menempatkan psikolog di puskesmas,” pungkas dia. (mg2/bob)








