Kabupaten Malang, blok-a.com – Marwoto, seorang pedagang pakaian di Pasar Kepanjen, Kabupaten Malang harus kembali menelan kenyataan pahit. Begaimana tidak, hingga h-9 Lebaran 2024 animo masyarakat untuk membeli baju di pasar tradisional kian lesu.
Dari pantauan Blok-a.com di lapangan, kondisi pasar memang cukup memprihatinkan. Bahkan, hingga pukul 10.30 Senin (1/4/2024) pembeli dapat terhitung jari. Tak semua kios dihampiri pembeli.
Kendati demikian, pedagang maupun karyawan toko tak hentinya menawarkan barang penjualannya. Hampir semua pernik-pernik lebaran ditawarkan, seperti baju anak, gamis, baju koko, mukenah, sarung, peci dan masih banyak lainnnya.
Mereka masih tetap setia menawarkan dagangannya, tanpa lelah. Meskipun terkadang tak dihiraukan oleh para calon pembeli.
Sementara itu, terpantau beberapa calon pembeli hanya kelur masuk ke kios-kios pedagang di Pasar Kepanjen, Kabupaten Malang. Melihat-lihat, menanyakan harga, kemudian pergi.
“Ya gitu mereka lihat-lihat dulu. Tanya-tanya harga aja. Nawarpun tidak kadang, terus pergi. Kayak menimbang-nimbang harga menurut saya,” ujar Marwoto saat ditemui, Senin (1/4/2024).

Lebih lanjut, pria berusia 54 tahun ini mengaku, nasib tak mujur ini telah ia rasakan sejak adanya pandemi 2019 lalu. Bisnis yang ia rajut sejak puluhan tahun lamanya, seolah ambruk karena pandemi kala itu.
Ia menyebut, hal itu dikarenakan daya beli masyarakat kian berpindah ke pasar online. Ia pun menyadari hal tersebut tidak bisa dipungkiri dengan adanya perkembangan teknologi yang kian pesat.
“Mau gimana lagi, semua serba mudah kalau online. Tidak perlu keluar rumah, bayar juga tinggal pencet hp (handphone), gak perlu ambil sudah diantar di depan rumah,” katanya.
Ditanya omset penjualan, pria yang juga bekerja sebagai buruh serabutan ini tidak dapat menjawab detailnya. Ia hanya tersenyum tipis, tidak ada kata yang terucap selain umpatan pasrah.
“Jangankan omset, laku untuk makan aja syukur mbak. Bisa kulakan sekarang, besok laku buat makan. Besoknya lagi, gak bisa kulakan wes,” keluhnya.
Menurunnya omset tidak tanggung-tanggung, kata Marwoto, bahkan dulu ia bisa membayar karyawan kios pakaiannya. Namun, sekarang kiosnya hanya dijaga seorang diri bersama sang istri karena perputaran uang yang minim.
“Jangankan bayar karyawan, buat apa karyawan. Pembelinya saja gak ada, gak kualahan sekarang gak kayak dulu,” ujarnya.
Sebelum pandemi kala itu, ia bisa meraih omzet jutaan rupiah perharinya. Bahkan, saat bulan Ramadan seperti saat ini, ia mengaku dapat meraup untung puluhan juta satu dalam bulan penuh.
“Dulu kalau mau lebaran gini pasar dari pagi samapai malam gak pernah surut pembeli. Karyawan tiga kuwalahan, sekarang dijaga sendiri saja karena biayanya diputar untuk kebutuhan lain,” katanya.
Untuk kembali menyambung hidupnya, kini anak pertamanya mulai menerapkan toko online di sejumlah marketplace. Ia berharap bisnisnya bisa diturunkan dan dapat kembali berjaya seperti sedia kala.
“Sekarang anak saya yang pertama mulai jual di online, ya baju baju yang dijual di pasar sini. Alhamdulillah ada pembeli, satu dua gitu. Semoga dengan diambil alih anak saya bisa kembali bangkit lagi nantinya,” pungkasnya. (ptu/bob)








