Prajurit TNI AU Pesawat Super Tucano Sandhra Gunawan Sempat Beri Motivasi Adik dan Saudaranya Sebelum Gugur

Pemakaman pilot pesawat TNI AU jenis Super Tucano yang jatuh di area Gunung Bromo, di TMP Suropati, Kota Malang, Jumat (17/11/2023). (blok-a.com/Widya Amalia)
Pemakaman pilot pesawat TNI AU jenis Super Tucano yang jatuh di area Gunung Bromo, di TMP Suropati, Kota Malang, Jumat (17/11/2023). (blok-a.com/Widya Amalia)

Kota Malang, blok-a.com – Sosok Prajurit TNI AU Pesawat Super Tucano, Kolonel Pnb (anumerta) Sandhra Gunawan dikenal hangat dengan keluarga. Bahkan sebelum gugur bertugas, dia memberikan motivasi pada keluarga dan saudaranya. Terutama, bagi mereka yang ingin bertugas sebagai TNI.

Hal itu diceritakan oleh kerabat jauhnya, Gus Tri Ramadhan, usai proses pemakaman militer, di TMP Suropati Kota Malang.

“Sebagai saudara dan sekaligus kakak, dia adalah adik yang patut dicontoh oleh saudara yang lain,” ujar Gus pada awak media.

Gus terakhir bertemu dengan Sandhra sekitar 40 hari sebelum kecelakaan pesawat tersebut. Pada saat itu, mereka tengah bertemu di Kota Bogor, Kecamatan Cibinong, ketika salah seorang saudaranya menikah.

“Bicara terakhir sama Sandra sebelum 40 hari sebelum beliau wafat, tepatnya 6 oktober, berkumpul di Cibinong berkumpul ketika saudara menikah,” ujar dia.

Pada saat itu, dia tiba-tiba memberikan motivasi kepada saudara-saudaranya. Seperti bagaimana cara belajar, mendorong semangat agar terus berlatih.

Apalagi, banyak saudaranya yang ingin mengikuti jejak Sosok Prajurit TNI AU Pesawat Super Tucano, Kolonel Pnb (anumerta) Sandhra Gunawan. Sehingga, Sandhra dengan senang hati memberikan banyak motivasi.

“Dia bilang, ‘Yang mau jadi tentara, giat berlatih belajar,’ seperti itu,” jelas Gus.

Kebanggaan Keluarga

Memang, perjuangannya untuk masuk TNI AU tidak instan. Sejak SMA, Sandhra dikenal dengan sosok yang gigih dan giat belajar. Gus sering membimbing dan mengajari Sandhra, terlebih dia juga termasuk anggota TNI. Memang, mereka berdua lahir dari keluarga militer.

Dari generasi sang kakek moyang, lanjut Gus, memang sudah menjadi sosok pejuang. Sementara, Sandhra sendiri memiliki dua orang adik. Yakni seorang dokter dan perwira.

Atas peristiwa ini, Gus menyebut pihak keluarga sangat kehilangan. Namun, tetap sosoknya menjadi kebanggaan keluarga.

“Sandhra itu berharap pada sodara dan sepupunya bisa jadi contoh melanjutkan perjuangan. Mbah kami juga pejuang, lahir dari keluarga militer. Jadi kebanggaan dari kami,” lanjut dia.

Usai gugur, Sandhra meninggalkan dua orang anak laki-laki dan seorang istri. Kedua anaknya masih duduk di Sekolah Menengah Pertama (SMP).

Gus bercerita, bahwa Sandhra mulai bergabung di TNI AU sejak dilantik tahun 2004, di Hercules, Kota Madiun.

Diketahui, dia juga merupakan lulusan Akademi Angkatan Udara (AAU) pada 2004. Selama menjalani pendidikannya, dia menjadi siswa terbaik pendidikan Sekolah Staf dan Komando Angkatan Udara (Seskoau) angkatan 56 di Lembang.

Letkol Pnb Sandhra tercatat pernah menerbangkan pesawat Cassa 212 di skadron udara 4 dan C-130 Hercules di skadron udara 32. Pada 2019, Letkol Pnb Sandhra menerima badge 1000 jam penerbangan dari Komandan Udara 21, Letkol Pnb Hery Setiawan.

Diberitakan sebelumnya, Kolonel Pnb (anumerta) Sandhra Gunawan bersama tiga Perwira Menengah (Pamen) TNI AU gugur usai dua pesawat tempur taktis EMB-314 Super Tucano yang ditumpangi jatuh di Taman Nasional Bromo, Tengger, Semeru (TNBTS), tepatnya di Desa Keduwung, Kecamatan Puspo, Kabupaten Pasuruan, Kamis (16/11/2023) siang.

Kepala Dinas Penerangan TNI Angkatan Udara (Kadispenau) Marsma TNI R. Agung Sasongkojati menyatakan bahwa kedua pesawat tersebut mulai hilang kontak pada pukul 11.18 WIB hingga akhirnya diketahui mengalami kecelakaan.

Sebelum mengalami kecelakaan, dua pesawat Super Tucano tersebut berangkat dari Lanud Abdurahman Saleh, Malang dalam keadaan layak terbang untuk melakukan latihan formasi rutin.(mg2/lio)