Kota Malang, blok-a.com – Anggaran operasional perawatan Ruang Terbuka Hijau (RTH) Kota Malang pada 2026 turun tajam dibandingkan tahun sebelumnya. Dari Rp3,88 miliar pada 2025, anggaran operasional yang tersedia tahun ini hanya Rp632,66 juta atau berkurang sekitar 83,7 persen.
Plt Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Malang, Gamaliel Raymond Hasiholan Matondang, mengatakan penurunan anggaran tersebut menjadi tantangan dalam pemeliharaan RTH yang dikelola Pemkot Malang. Berdasarkan data DLH, total luasnya mencapai 1.076.260,15 meter persegi, meliputi taman kota, hutan kota, jalur hijau, dan pemakaman umum.
“Untuk tahun anggaran 2026 benar memang turun. Tapi ini menjadi tantangan tersendiri bagi kami untuk mampu merawat RTH yang ada saat ini,” ujar Raymond, Senin (19/10/2026).
Raymond juga mengakui, anggaran dan jumlah petugas lapangan yang tersedia belum mencukupi kebutuhan ideal untuk merawat seluruh kawasan tersebut.
“Anggaran dan jumlah petugas lapangan saat ini tidak memenuhi kebutuhan ideal perawatan taman atau RTH se-Kota Malang,” tambahnya.
Kondisi tersebut turut memengaruhi frekuensi pemeliharaan di sejumlah lokasi. Beberapa taman mendapat perawatan setiap hari, sedangkan taman lainnya hanya dirawat setiap minggu atau bahkan setiap bulan.
“Pada beberapa titik taman, perawatan dilakukan sebanyak satu minggu sekali, dan ada yang satu bulan sekali,” tuturnya.
Taman Kiai Malik, Taman Rajasa, Taman Gadang, Hutan Kota Hamid Rusdi, Hutan Kota Polowijen, Hutan Kota Ikan Tombro, Hutan Kota Pandanwangi, dan Taman Raya Langsep termasuk lokasi dengan frekuensi perawatan yang lebih terbatas.
Sementara itu, taman yang menjadi prioritas perawatan harian antara lain Taman Ijen, Taman Dieng, dan Taman Veteran.
“Untuk standar pemeliharaan yakni bersih, rapi, indah,” beber Raymond.
Selain anggaran, keterbatasan sumber daya manusia dan peralatan juga menjadi kendala. Sejumlah petugas telah memasuki masa pensiun, tetapi belum mendapatkan pengganti. Di sisi lain, beberapa peralatan pemeliharaan mengalami kerusakan dan belum diperbaiki.
“Di beberapa titik memang ada penyesuaian perawatan sehingga terlihat kurang maksimal. Hal ini bisa dipengaruhi beberapa hal, seperti SDM yang semakin berkurang karena pensiun namun belum ada pengganti, serta beberapa peralatan yang rusak tetapi belum diperbaiki,” paparnya.
Kondisi kemarau panjang turut menambah beban pemeliharaan. Raymond menjelaskan, tanaman di sejumlah taman mengalami stres air hingga mengering. Serangan hama seperti kutu daun dan ulat juga dapat menurunkan estetika taman serta menyebabkan kematian vegetasi.
“Musim kemarau panjang ini memberikan tekanan ekologis yang berat bagi Ruang Terbuka Hijau di perkotaan,” jelasnya.
Untuk mengatasi kondisi tersebut, DLH mengatur jadwal penyiraman dengan mempertimbangkan skala prioritas. Truk tangki air dikerahkan pada malam hari agar kebutuhan air tanaman tetap terpenuhi.
“Truk-truk tangki air dikerahkan secara intensif pada malam hari dengan skala prioritas penyiraman,” imbuhnya.
Keterbatasan anggaran juga berdampak pada pemeliharaan fasilitas umum. Raymond menyebut sejumlah taman, seperti Taman Jalan Bandung, Taman Jalan Veteran, dan median Jalan Raya Langsep, membutuhkan perhatian khusus.
“Untuk kondisi fasilitas umum rata-rata sangat memprihatinkan, baik elemen hardscape seperti tempat sampah, bangku, kanstin taman, dan signage, maupun elemen elektrikal seperti pompa air mancur dan lampu,” katanya.
Dengan kondisi tersebut, DLH memprioritaskan pemeliharaan taman aktif, seperti Alun-Alun Merdeka, Alun-Alun Tugu, Taman Slamet, dan Taman Singha Merjosari. Pemkot Malang juga berupaya membangun kerja sama dengan berbagai pemangku kepentingan untuk mendukung pemeliharaan RTH.
“Pemkot Malang terus berupaya menggalang kerja sama dengan berbagai pemangku kepentingan,” pungkas Raymond. (yog)








