DPRD Kota Malang Serukan Pengendalian Gawai – Batasi Sejumlah Permainan Anak

Sekretaris Komisi B DPRD Kota Malang Arief Wahyudi. (blok-a.com/Satria Akbar)
Sekretaris Komisi B DPRD Kota Malang Arief Wahyudi. (blok-a.com/Satria Akbar)

Kota Malang, blok-a.com – DPRD Kota Malang menilai generasi muda saat ini mulai menunjukkan tanda-tanda ketergantungan terhadap gawai.

Oleh karena itu, sejumlah anggota dewan menyuarakan kekhawatiran dan meminta orang tua memperketat pengawasan penggunaan gawai oleh anak-anak.

Salah satu yang menyuarakan keresahan tersebut adalah Sekretaris Komisi B DPRD Kota Malang Arief Wahyudi, yang juga merupakan anggota Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa.

Arief mengutarakan bahwa pengawasan penggunaan gawai terutama dalam hal permainan atau game pada anak-anak adalah salah satu hal yang perlu diperhatikan orang tua mulai saat ini.

Ia mengambil contoh kasus di Cirebon dimana seorang anak hingga harus mengalami depresi karena handphonenya dijual oleh ibunya.

“Ada seorang anak itu hingga mengalami depresi karena hapenya dijual oleh emaknya. Kok bisa ini, ngalah-ngalahin narkoba ini. Nah, ini perlu pengawasan, perlu pengendalian,” tuturnya.

Arief mengatakan, saat ini anak-anak saat berkumpul cenderung untuk bermain permainan di gawai daripada bersosialisasi seperti sepatutnya.

 “Bagaimana tentang gawai ini dari ibu, bapak, keluarga, bahwa pembatasan terhadap permainan ini betul-betul memerlukan perhatian serius. Karena Ketika anak-anak berkumpul dengan teman-temannya, itu yang dimainkan itu game FF (Free Fire),” ujarnya.

Oleh karena itu, ia menyerukan pengawasan yang lebih ketat terkait permasalahan tersebut untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.

“Maka diperlukan evaluasi, pembinaan, terutama kepada anak-anak terkait permainan-permainan yang saya sebutkan tadi,” tutur Arief.

Sementara itu, Agoes Marhaenta dari Komisi B yang juga merupakan anggota Fraksi PDI Perjuangan mengungkap data yang memprihatinkan.

Ia mendapatkan data bahwa 2,4 persen peserta didik di Malang mengalami perundungan sehingga menciptakan iklim belajar yang mencekam dan penuh ketakutan.

Parahnya lagi, 21.863 anak usia 10-17 tahun terjebak dalam kecanduan rokok di tahun 2022. Kecanduan gawai diduga menjadi salah satu faktor pemicunya, meskipun perlu penelitian lebih lanjut untuk memastikannya.

Terkait hal ini, untuk mengejar target Kota Malang layak anak dengan predikat Utama, diperlukan pengawasan terhadap hal-hal tersebut.

Apalagi jika Kota Malang memiliki niat untuk meraih misi besar selanjutnya, yaitu predikat Paripurna.

“Di Indonesia belum ada yang Paripurna. Target kita kan menjadi Kota Layak Anak yang lebih dari Utama, yaitu Paripurna,” ujar Agoes.(art/lio)

Kirim pesan
Butuh bantuan?
Hai, apa kabar?
Apa yang bisa kami bantu?