Malang, blok-a.com — Program Kandidat Doktor Mengabdi Universitas Islam Malang (Unisma) menggelar Seminar Nasional bertema “Penguatan Pendidikan Islam Multikultural sebagai Solusi Pencegahan Konflik Antar Pelajar” di SMA Nahdlatul Ulama (NU) Pakis, Kabupaten Malang.
Kegiatan ini melibatkan lima kandidat doktor dari Program Studi Doktor Pendidikan Agama Islam (PAI) Multikultural Unisma, yakni Ruwiyanto, Siti Mariyam, Evarianisa Endang Trisnani, Ahmad Tamim, dan Anjar Subiantoro.
Melalui kegiatan tersebut, para kandidat doktor mengajak para pelajar untuk menumbuhkan sikap saling menghargai di tengah keberagaman, baik perbedaan latar belakang sosial, budaya, maupun pandangan keagamaan. Pendidikan Islam multikultural dipandang penting dalam membentuk karakter peserta didik yang berakhlak, inklusif, serta memiliki wawasan kebangsaan.
Dosen pembimbing lapangan program Kandidat Doktor Mengabdi Unisma, HM Mas’ud Said, mengatakan bahwa kegiatan pengabdian semacam ini akan terus diperluas ke berbagai lembaga pendidikan dan komunitas masyarakat.
“Kami berharap sinergi antara Unisma dan sekolah-sekolah, khususnya di lingkungan Nahdlatul Ulama, dapat terus terjalin dengan baik,” ujarnya melalui sambungan telepon, Selasa (23/12/2025).
Direktur Pascasarjana Unisma menegaskan komitmen kampusnya untuk tidak hanya unggul dalam pengembangan keilmuan, tetapi juga aktif berkontribusi dalam membangun kehidupan masyarakat yang damai, toleran, harmonis, dan berkeadaban.
“Dengan kerja sama ini harapannya adalah turut memberikan kontribusi untuk mencetak generasi muda yang berilmu, berkarakter, dan memiliki wawasan multikultural yang kuat,” ungkapnya.
Sementara itu, Kepala SMA NU Pakis, Nanik Nurhayati, mengapresiasi terselenggaranya kegiatan tersebut. Ia menyebut program Kandidat Doktor Mengabdi sebagai program baru yang pertama kali dilaksanakan di sekolah yang dipimpinnya.
“Ya tentunya program kandidat doktor mengabdi dari Universitas Islam Malang ini sangat bermanfaat untuk menambah wawasan para siswa-siswi dan para pendidik di SMA NU Pakis, tentang keberagaman,” katanya.
Ia berharap kegiatan tersebut dapat berlanjut sehingga nilai-nilai pendidikan Islam multikultural terus diterapkan dan manfaatnya dirasakan oleh seluruh sivitas akademika SMA NU Pakis.
“Kegiatan ini menjadi wujud nyata sinergi antara perguruan tinggi dan lembaga pendidikan menengah atas, khususnya SMA NU Pakis, dalam membangun ekosistem pendidikan yang damai, inklusif, dan berorientasi pada pencegahan konflik sejak dini,” pungkasnya. (bob)








