Kota Malang, blok-a.com – Ratusan massa aksi yang tergabung dalam Aliansi Rakyat Bangkit Bersatu (ARBB) menggelar aksi demonstrasi di depan titik monumen lokomotif Kayutangan Heritage yang berada di Jalan Basuki Rahmat, Kecamatan Klojen, Kota Malang, Jumat (28/8/2026). Dalam aksi tersebut, mereka menyampaikan 17 tuntutan sekaligus menyuarakan kondisi yang mereka sebut sebagai “Indonesia Sekarat, Lawan Militerisme, Bangun Persatuan Rakyat”.
Berdasarkan pantauan tim blok-a.com di lapangan sekitar pukul 15.40 WIB, massa aksi yang didominasi pakaian berwarna hitam tampak telah berkumpul untuk menyuarakan sejumlah aspirasi dan keresahan yang mereka bawa dalam aksi tersebut.
Koordinator aksi, Eko mengatakan, aksi tersebut digelar untuk memperingati satu tahun prahara Agustus 2025 yang menurut mereka menjadi salah satu momentum terbesar penangkapan aktivis dan pemuda sepanjang era reformasi.
Menurutnya, aksi juga menjadi bentuk kampanye kepada masyarakat mengenai berbagai persoalan yang hingga kini dinilai belum terselesaikan, termasuk tuntutan keadilan bagi korban dalam rangkaian peristiwa Agustus 2025.
“Kami memandang hari ini kebutuhan kita adalah sebagai peringatan dan kampanye kepada publik terkait apa yang sudah terjadi satu tahun lalu dan saat ini masih terjadi lagi. Hari ini rakyat yang menuntut tegakkan keadilan di tahun 2025, hari ini masih menuntut keadilan itu,” ujar Eko di lokasi aksi.
17 Tuntutan Massa Aksi ARBB
Dalam aksinya, ARBB membawa 17 tuntutan yang mencakup persoalan ketenagakerjaan, ekonomi, agraria, pendidikan, lingkungan, hingga penegakan hukum. Berikut tuntutan yang disampaikan:
- Menghentikan PHK massal, menyediakan lapangan kerja dan upah layak, serta mengesahkan UU Ketenagakerjaan yang pro buruh.
- Menurunkan harga kebutuhan pokok dan BBM.
- Membangun industri nasional yang berorientasi pada kebutuhan rakyat, bukan keuntungan oligarki dan investor asing.
- Menjalankan reformasi agraria sejati dan memberikan tanah kepada petani miskin.
- Menghentikan kriminalisasi terhadap petani dan masyarakat adat.
- Menghentikan intimidasi, kekerasan, pelecehan, dan kriminalisasi terhadap perempuan yang mempertahankan tanah.
- Mengesahkan RUU Masyarakat Adat.
- Menghentikan militerisasi ruang sipil dan mengembalikan TNI ke barak.
- Menghentikan Proyek Strategi Nasional (PSN) yang mengeksploitasi alam dan merugikan rakyat di seluruh Indonesia dan Papua.
- Menghentikan praktik neoliberalisme pendidikan.
- Merevisi UU Sistem Pendidikan Nasional dan mewujudkan pendidikan gratis yang ilmiah, demokratis, kerakyatan, dan feminis.
- Mengesahkan RUU Perampasan Aset.
- Menghentikan penjarahan APBN untuk kepentingan patronase politik dan elit oligarki.
- Menangani bencana alam secara tanggap dan sigap serta memberikan keadilan bagi korban.
- Mengusut tuntas pelaku penyebab kebakaran hutan dan lahan di seluruh wilayah.
- Mengadili pelaku pembunuhan 13 korban perlawanan Agustus 2025.
- Membebaskan seluruh tahanan politik.
Eko menyebut ARBB terdiri dari berbagai elemen, mulai mahasiswa, pemuda, buruh hingga masyarakat miskin kota. Mereka berasal dari sejumlah kampus dan kelompok masyarakat di Kota Malang.
“Kami dari satu aliansi yang sama, namun elemennya dari mahasiswa, pemuda, buruh, dan rakyat miskin kota,” katanya.
Pemilihan kawasan Kayutangan Heritage sebagai lokasi aksi, lanjut Eko, bertujuan menyampaikan pesan kepada masyarakat luas sekaligus membangun kesadaran publik mengenai berbagai persoalan yang mereka soroti.
“Kami menyadarkan masyarakat lewat aksi di jantung Kota Malang, yaitu di daerah Kayutangan Heritage,” pungkasnya.
Hingga berita ini ditulis, massa masih berada di lokasi dan situasi di lokasi terpantau kondusif dengan pengawalan aparat keamanan. (ber)








