Kabupaten Malang, blok-a.com – Petani di Kabupaten Malang dinilai cukup siap menghadapi potensi dampak kemarau panjang akibat fenomena El Nino. Pengaturan pola tanam hingga pemilihan komoditas menjadi strategi petani agar produksi pertanian tetap berjalan.
Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan (DTPHP) Kabupaten Malang menyebut hingga kini belum menerima laporan mengenai kendala serius yang dialami petani akibat kondisi tersebut.
Kepala DTPHP Kabupaten Malang, Avicenna M Saniputera, mengatakan pihaknya telah berkoordinasi dengan para penyuluh dan pendamping pertanian untuk memantau kondisi di lapangan. Ia menambahkan, berdasarkan informasi sementara, belum ada dampak El Nino yang mengganggu aktivitas pertanian secara signifikan.
“Jadi kalau is El Nino ini kan perlu atensi secara nasional, tapi secara internal Kabupaten Malang mencari info kepada penyuluh, adakah yang terdampak. Jadi kalau info sementara tidak ada yang terdampak secara serius,” ujar Avi, sapaan akrabnya.
Avi menambahkan, petani memiliki sejumlah cara untuk beradaptasi ketika menghadapi musim panas berkepanjangan. Salah satunya dengan menyesuaikan kalender tanam berdasarkan kondisi cuaca dan ketersediaan air.
Selain mengatur waktu tanam, petani juga dapat memilih jenis tanaman yang sesuai dengan kondisi musim. Diversifikasi komoditas turut dilakukan untuk menjaga keberlangsungan produksi.
“Karena masih masih bisa mengatur pola tanam. Dampaknya apa? Paling tanamnya agak molor, tanamnya agak mundur tapi tidak terlalu besar dampaknya,” tuturnya.
Di sisi lain, pemerintah juga menyiapkan dukungan untuk mengantisipasi potensi kekeringan di kawasan pertanian. Kementerian Pertanian telah menyalurkan bantuan pompa air yang dapat dimanfaatkan petani ketika mengalami kesulitan mendapatkan pasokan air.
Avi menyebut pompa tersebut tersedia di sejumlah Kodim dan dapat dipinjam untuk membantu kebutuhan pengairan lahan pertanian.
“Pemerintah pusat terutama pertanian sudah memberikan bantuan pompa yang ada di Kodim-kodim. Semua kodim kan sudah ada stok pompa nanti itu bisa digunakan kalau terjadi rawan kekeringan, bisa dipinjam. Ada 85 kalau gak 84,” jelasnya.
Kemampuan petani beradaptasi juga terlihat dari pilihan komoditas yang ditanam pada musim tertentu. Penyesuaian tersebut membuat kegiatan pertanian tetap dapat berjalan meski kondisi cuaca berubah.
Salah satunya di Kecamatan Poncokusumo. Meski daerah tersebut memiliki pasokan air yang relatif mencukupi, petani tetap memilih menanam berbagai jenis sayuran ketika memasuki musim kemarau.
“Tapi pola masyarakat kalau menanam sayur musim panas banyak sayur. Karena Malang di tahun 2025 kemarin penghasil sayur terbesar di Jawa Timur. Kalau di Jawa Timur adalah penghasil pertanian terbesar se-Indonesia, berarti Malang itu level sudah nasional,” pungkas Avi. (yog)








