Meyeruput Sejarah di Kopi Hamur Mbah Ndut Kampung Heritage Kajoetangan

Hamur Mbah Ndut 1923, salah satu rumah bersejarah yang terletak di Kampung Heritage Kajoetangan.(blok-a.com/Yogga Ardiawan)
Hamur Mbah Ndut 1923, salah satu rumah bersejarah yang terletak di Kampung Heritage Kajoetangan.(blok-a.com/Yogga Ardiawan)

Kota Malang, blok-a.com – Di tengah koridor Kampung Heritage Kajoetangan, Kota Malang, berdiri sebuah rumah tua yang usianya telah menembus satu abad. Rumah itu menjadi bagian dari saksi sejarah arsitektur era kolonial Belanda yang hingga kini masih berdiri kokoh.

Rumah tersebut kini familiar dikenal sebagai Kopi Hamur Mbah Ndut, sebuah kedai sederhana yang menjadi magnet wisatawan Kampung Heritage Kajoetangan.

Pemilik rumah, Rudi, menuturkan bahwa bangunan tersebut merupakan rumah warisan keluarga yang dibangun sekitar tahun 1923 dan nyaris tidak mengalami perubahan struktur.

“Ini rumah warisan. Rumah peninggalan eyang kita yang dibangun sekitar 1923. Keadaannya masih utuh. Baik jendela, pintu, maupun lantai,” ujar Rudi, saat ditemui di rumahnya, Sabtu (27/12/2025).

Menurutnya, perubahan hanya dilakukan pada bagian atap yang dulunya berbahan bambu dan kayu, karena faktor usia bangunan.

Rudi menambahkan, rumah tersebut mengusung gaya arsitektur atap pelana kuda, ciri khas bangunan era Belanda pada rentang tahun 1920 hingga 1950.

“Atap dulu dari bambu, sudah lapuk, gentengnya melorot sendiri, akhirnya jatuh. Jadi kami berinisiatif mengganti, tapi tetap mengikuti bentuk aslinya,” katanya.

Berbeda dengan arsitektur setelah tahun 1950 yang mulai mengarah ke gaya rumah jengki, menurut Rudi, gaya rumah miliknya lebih mencerminkan arsitektur Nusantara pascakemerdekaan.

Tak hanya atap, struktur fondasi rumah pun menjadi bukti kecanggihan teknik bangunan masa lalu. Rumah ini dibangun menggunakan batu kali yang ditata, disatukan dengan campuran semen merah dan gamping.

“Fondasinya dari batu kali, dikasih semen merah dan gamping. Bata merahnya disusun berdiri dan muter semua. Itu yang bikin rumahnya kuat,” ungkapnya.

Ciri khas lain dari rumah tua ini adalah tembok yang tampak lembap hingga ketinggian sekitar satu meter. Ia menyebut, kekuatan material tradisional justru menunjukkan kecerdasan para leluhur dalam memahami bangunan.

“Satu meter itu berair temboknya. Karena air tersedot naik dari sloof. Tapi justru itu nggak bikin rapuh. Malah tetap kokoh sampai sekarang,” ujarnya.

Transformasi rumah bersejarah ini menjadi ruang singgah wisata bermula pada tahun 2018, saat kawasan Kajoetangan ditetapkan sebagai Kampung Heritage oleh Pemerintah Kota Malang.

“Waktu itu saya masih buka toko sembako. Tapi saya mikir, wisatawan masa beli beras? Akhirnya saya bikin tempat istirahat, awalnya bukan kedai, tapi rest area,” jelas Rudi.

Konsep kedainya cukup sederhana yakni menyediakan tempat duduk, minuman, dan suasana nyaman bagi wisatawan yang lelah berkeliling kampung. Nama Kopi Hamur Mbah Ndut dipilih untuk mengenang orang tuanya dan ciri khas panggilan akrab dari para tetangga.

“Di kampung, ibu kami dipanggil Mbah Ndut. Terus terpikir, ini rumah Mbah Ndut, akhirnya saya namai Kopi Hamur Mbah Ndut,” tuturnya.

Dengan menyajikan kopi tanpa gula, disuguhkan menggunakan gelas-gelas lawas peninggalan keluarga, tempat ini justru menarik perhatian wisatawan yang gemar berburu estetika sejarah.

“Gelas-gelas lama itu saya keluarkan supaya bisa jadi wadah konten. Orang sekarang kan senangnya foto,” pungkasnya. (yog/lio)