5 Patung Pahlawan di Kota Malang Ikon Sejarah Perjuangan

foto patung Hamid Rusdi

Kota Malang, Blok-a.com- Kota malang merupakan salah satu basis perjuangan di Jawa Timur dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan. kota Malang menjadi penuh dengan catatan sejarah masa lampau, pada masa kolonial.

Sebagai buktinya, ada banyak monumen dan patung penuh cerita dan sejarahnya. yang tersebar di sejumlah titik di kota Malang. Sebagian besar ada di sekitar area pusat pemerintahan, tidak jauh dari Alun-alun Tugu.

Kini Blok-a.com akan memberikan lima patung yang bertema Pahlawan di Kota Malang lengkap beserta alamatnya.

  1. Patung Hamid Rusdi

Patung Hamid Rusdi merupakan sebuah monumen yang didirikan untuk mengenang pahlawan nasional asal Malang, Kapten Hamid Rusdi. Hamid Rusdi adalah seorang pejuang kemerdekaan yang dikenal atas keberaniannya dalam melawan penjajah Belanda dan Jepang di Malang pada masa Revolusi Indonesia.

Patung Hamid Rusdi bisa kalian temukan di taman bunderan Simpang Balapan. Tepatnya berada di Jalan. Panggung No.2A, RW.3, Oro-oro Dowo, Kec. Klojen, Kota Malang, Jawa Timur.

Maps Patung Hamid Rusdi: https://maps.app.goo.gl/fG7GyskjaAD5MgwX6

2. Patung Jendral Sudirman

Patung Jenderal Sudirman didirikan untuk mengenang dan menghormati Jenderal Sudirman, salah satu pahlawan nasional Indonesia yang dikenal sebagai Panglima Besar Tentara Nasional Indonesia (TNI) selama masa perjuangan kemerdekaan. Selain itu Monumen ini mengingatkan generasi muda akan jasa-jasanya dalam mempertahankan kemerdekaan dan membangun kekuatan militer Indonesia yang solid.

Patung Jendral Sudirman bisa kalian temukan di Jalan R. Tumenggung Suryo, Bunulrejo, Blimbing, Bunulrejo, Malang, Kota Malang, Jawa Timur. Tepatnya berdekatan dengan SMP Negeri 5 malang. Posisi patung ini berukuran besar dengan desain menunggang kuda.

3. Patung Tentara Genie Pelajar (TGP)

Monumen Tentara Genie Pelajar (TGP) adalah sebuah tugu peringatan yang didirikan untuk mengenang perjuangan para pelajar yang tergabung dalam kesatuan Tentara Genie Pelajar selama masa kemerdekaan Indonesia. Patung ini Diresmikan pada 17 Juli 1989, monumen ini menjadi simbol penghargaan atas jasa-jasa para pejuang muda yang gugur dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia, khususnya saat menghadapi Agresi Militer Belanda.

Monumen patung (TGP) terletak di jalan. Semeru, Oro-oro Dowo, Kec. Klojen, Kota Malang, Jawa Timur. Patung ini Berdiri di seberang pintu masuk Stadion Gajayana sebelah timur, patung ini menjadi simbol penghargaan bangsa ini terhadap para Tentara Genie Pelajar.

4. Patung Chairil Anwar

Patung Chairil Anwar didirikan untuk menghormati Chairil Anwar, salah satu penyair besar Indonesia dan tokoh utama dalam Angkatan ’45. Chairil Anwar lahir pada 26 Juli 1922 dan dikenal karena puisinya yang penuh semangat perjuangan, kebebasan, serta rasa nasionalisme, yang sejalan dengan perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Karya-karya penyair dari Chairil Anwar itu seperti “Aku” dan “Karawang-Bekasi,” sangat berpengaruh dan menggambarkan jiwa revolusi pada masanya.

Patung Chairil Anwar terletak di kawasan sejarah kayutangan, lebih tepatnya di Jalan Mojopahit, Kiduldalem, Kec. Klojen, Kota Malang, Jawa Timur. Pendirian patung tersebut bertujuan untuk mengenang kontribusi Chairil Anwar dalam membangkitkan semangat nasionalisme melalui sastra.

5. Monumen Juang 45/ Buto ijo

Monumen ini menggambarkan tokoh-tokoh pejuang, seringkali dengan atribut khas seperti senjata tradisional atau bambu runcing, yang menjadi simbol semangat perlawanan rakyat.

Monumen Juang 45 mengingatkan masyarakat akan pentingnya persatuan dan keberanian dalam menghadapi penjajahan serta menjadi pengingat abadi tentang perjuangan bangsa untuk mencapai kemerdekaan.

Keberadaan Monumen Juang 45 sangat mencolok, karena terletak tepat di depan stasiun baru kota Malang. Lebih tepatnya berada di jalan. Kertanegara, Klojen, Kec. Klojen, Kota Malang, Jawa Timur. Di tepi monumen terdapat 8 pagar sebagai simbol budaya Jawa dan di depan monumen ada gambar teks Proklamasi.

Maps Monumen Juang 45: https://maps.app.goo.gl/DGuq5NPWGjBf3Bh58

Penulis: Anwar Arya Wijaya (Mahasiswa Magang UTM)