Mahasiswa Rantau di Kota Malang, Antara Menuntut Ilmu & Bertahan Hidup

Nakoa, Cafe Hits Mahasiswa Kota Malang: Ini Lokasi, hingga Harga Menunya
Nakoa, Cafe Hits Mahasiswa Kota Malang: Ini Lokasi, hingga Harga Menunya

Malang, Blok-a.com – Di tengah meningkatnya biaya hidup di kota Malang, para mahasiswa rantau berusaha memutar otak agar tetap bisa bertahan. Bagi mereka, hidup jauh dari keluarga bukan hanya tentang belajar di perantauan. Tapi, juga tentang bagaimana mengatur keuangan, beradaptasi dengan perubahan harga, dan tetap bertahan di tengah biaya hidup yang serba naik.

Kenaikan harga bahan makanan, biaya transportasi, hingga tarif kos memang mulai terasa beberapa tahun terakhir. Meski begitu, sebagian mahasiswa tetap berusaha menyesuaikan diri dengan situasi tersebut. Mereka belajar hidup lebih hemat, menekan gaya hidup konsumtif, dan beradaptasi dengan cara-cara baru agar uang bulanan bisa cukup sampai akhir bulan.

Meski begitu, Virna (21), mahasiswi asal Papua yang kini menempuh kuliah di Universitas Islam Negeri (UIN) Malang, mengaku kenaikan harga tidak terlalu ia rasakan.

“Mungkin karena dari awal aku ke Malang udah terbiasa hidup dengan gaya yang sama, jadi nggak terlalu terasa,” ujarnya.

Menurutnya, Malang masih termasuk kota yang terjangkau dibanding daerah lain. Ia bahkan merasa biaya hidup di Malang masih stabil, apalagi sering ada promo dan diskon makanan. Namun, ia mengaku pengeluaran paling sering membengkak di bagian makan dan jajan.

“Kalau lagi stres nugas, pengennya nugas di kafe. Tapi ya itu, pengeluaran jadi nambah buat jajan minum dan makan,” tambahnya.

Kebiasaan seperti ini cukup umum di kalangan mahasiswa. Banyak yang menjadikan kafe sebagai tempat produktif untuk mengerjakan tugas, meski harus mengorbankan sedikit lebih banyak uang. Bagi anak rantau seperti Virna, pengeluaran ekstra kadang jadi harga yang harus dibayar untuk menjaga semangat dan kesehatan mental selama jauh dari keluarga.

Strategi Mahasiswa Rantau Siasati Biaya Hidup

Berbeda dengan Virna, beberapa mahasiswa lain justru merasakan tekanan ekonomi yang lebih berat. Salah satunya Arul (26), mahasiswa Universitas Negeri Malang (UM) asal Jember. Ia mengaku harus pintar-pintar menekan pengeluaran agar tetap bisa bertahan di tengah kenaikan harga. Memilih masak sendiri di kos untuk menghemat biaya hidup.

“Harga kos sekarang udah lumayan naik, jadi aku lebih sering masak bareng teman biar irit. Kalau beli makan di luar bisa dua kali lipat,” katanya.

Kegiatan masak bareng teman kos menjadi salah satu strategi bertahan hidup yang paling banyak dilakukan anak rantau di Malang. Selain bisa menghemat, suasana kebersamaan juga membantu mereka merasa tidak terlalu kesepian.

Arul menambahkan, gaya hidup sederhana seperti mencuci baju sendiri dan mengurangi nongkrong adalah cara paling realistis untuk menjaga keseimbangan keuangan.

Hal serupa juga disampaikan Eco, mahasiswa UIN Malang dari Bekasi. Ia menyadari kalau biaya transportasi dan kebutuhan harian kini makin mahal. Namun, menurutnya, gaya hidup mahasiswa juga berperan besar dalam menentukan seberapa boros atau hemat seseorang.

“Sekarang banyak teman yang nongkrong tiap hari, padahal itu yang bikin boros. Aku sendiri lebih sering jalan kaki ke kampus atau nebeng teman, yang penting hemat,” ujarnya sambil tertawa.

Bagi Eco, bertahan di perantauan bukan cuma soal uang, tapi juga soal kesadaran diri. Ia berusaha menyeimbangkan antara kebutuhan dan keinginan, agar hidupnya tetap nyaman tanpa harus bergantung pada kiriman tambahan dari rumah. (mg1/gni)

Penulis: Rosa Dwi Eliyah (Mahasiswa Magang UTM Bangkalan)