Musisi Kota Malang Punya Tradisi Baru: Tampil di Kayutangan Heritage

Musisi yang tampil di salah satu sudut pedestrian Kayutangan Heritage Kota Malang (foto: M. Naufal Abiyyu/Blok-a.com)
Musisi yang tampil di salah satu sudut pedestrian Kayutangan Heritage Kota Malang (foto: M. Naufal Abiyyu/Blok-a.com)

Malang, Blok-a.com – Setiap malam, jalur pedestrian Kayutangan Heritage di Kota Malang berubah menjadi ruang publik yang hidup. Di antara lalu-lalang para pengunjung dan pelintas, penampilan para musisi kini menjadi elemen yang hampir selalu hadir, menyalakan suasana malam di destinasi traveling populer satu ini. Salah satunya datang dari band Sistemix, kelompok musisi yang rutin tampil dan menjadi bagian dari atmosfer kawasan tersebut.

Tim Blok-a.com bertemu dan berbincang sejenak dengan salah satu personel grup band Sistemix, Reza (50) namanya.

Baginya, tampil di Kayutangan bukan sekadar mencari penghasilan. Meski ia menyebut “ya rejeki ae” sebagai alasan awal, aktivitas bermusik di ruang publik ini perlahan menjadi bagian dari rutinitas yang membentuk identitas komunitas musik jalanan Malang.

“Kalau di Kayutangan hampir semua kita pernah tampil. Mulai dari Ramayana, Gramedia,” ujarnya kepada Blok-a.com, Sabtu (29/11/2025)

Sistemix sendiri beranggotakan enam orang, di antaranya tiga vokalis dan tiga pemain instrumen. Sebelumnya, grup musik ini lebih sering tampil di kafe maupun event. Namun kehadiran mereka di Kayutangan Heritage memberi warna baru bagi masyarakat yang melintas di jalur pedestrian tersebut setiap harinya.

Dari Tren Musiman menjadi Tradisi Baru

Salah satu faktor yang membuat pengunjung Kayutangan menerima kehadiran musisi jalanan adalah fleksibilitas musik mereka. Sistemix membawakan hampir semua genre, mulai dari dangdut, jazz, rock, ska, hingga reggae. Reza mengaku bahwa mereka sebisa mungkin mengakomodasi permintaan lagu dari penonton.

“Ya, alhamdulillah karena ini ya. Karena kita satu, all-genre Jadi semua-semua genre lagu kita bawain, kita usahain dibawain gitu. Dia request ya lagu ini, yang dangdut, mau ambyar, mau jazz, mau rock, mau ska, reggae,” tuturnya.

Jika beberapa tahun lalu live music di ruang publik terlihat musiman, hari ini Reza melihatnya berbeda. Menurutnya, keberadaan musisi di Kayutangan mulai menjadi tradisi baru, terutama sejak kawasan itu direvitalisasi menjadi destinasi wisata urban.

“Orang ke Kayutangan sekarang itu udah nyari suasana. Musik jadi salah satu yang dicari, bukan cuma pelengkap,” jelasnya.

Menurut Reza, keberadaan musisi jalanan di Malang tidak dapat dipisahkan dari komunitas musik lokal yang terus tumbuh. Komunitas ini menjadi tempat berbagi informasi, kolaborasi, hingga regenerasi musisi. Banyak anak muda yang mulai tampil karena melihat panggung terbuka di Kayutangan sebagai peluang belajar sekaligus ruang ekspresi.

“Sekarang banyak musisi baru yang mulai dari jalanan. Mereka belajar interaksi, belajar stamina, belajar terima request,” ujar Reza.

Di tengah hiruk pikuk tersebut, secara alamiah muncul komunitas nonformal yang diisi para musisi, pengamen, hingga wisatawan dan para pedagang.

Reza melihat itu sebagai bukti bahwa seni jalanan telah menjadi bagian dari identitas baru Malang.

“Kita ini cuma main musik, tapi kalau itu bikin orang betah di kota ini, ya berarti seni jalanan punya arti,” katanya. (mg2/gni)

Penulis: Muhammad Naufal Abiyyu (mahasiswa magang UTM Bangkalan)