Kota Malang, blok-a.com – Universitas Islam Malang (UNISMA) melalui Program Studi Pendidikan Matematika menggelar Final Liga Matematika Santri Nusantara (LIMAS), yang menjadi puncak rangkaian kegiatan kompetisi dan pengembangan akademik tingkat nasional, Sabtu (07/02/2016).
Kegiatan ini diikuti peserta dari 8 provinsi, 30 kota dan kabupaten di Indonesia. Para finalis bersaing memperebutkan medali emas, perak, dan perunggu, sekaligus berbagai bentuk penghargaan akademik dan beasiswa.
Dosen Pendidikan Matematika UNISMA, Isbadar Nursit, S.Pd., M.Pd, menjelaskan bahwa final LIMAS merupakan puncak dari rangkaian kegiatan panjang yang telah dimulai sejak awal Januari 2026.
“Hari ini adalah puncaknya, final Liga Matematika Santri Nusantara. Peserta yang lolos hari ini akan mendapatkan medali gold, silver, dan bronze, serta penghargaan juara 1, 2, dan 3,” ujarnya.
Isbadar menjelaskan, kegiatan ini tidak hanya terdiri dari LIMAS, tetapi juga diawali dengan program Pra-University, yang dilaksanakan secara daring dan diikuti siswa dari seluruh Indonesia. Pra-University diikuti oleh sekitar 120 peserta dan berlangsung selama 14 kali pertemuan setiap akhir pekan. Seluruh materi diajarkan langsung oleh dosen Pendidikan Matematika UNISMA.
“Bagi siswa yang mengikuti Pra-University secara rutin, kegiatan ini bisa diekivalensikan sebagai mata kuliah Analisis Olimpiade jika nantinya mereka masuk ke Prodi Pendidikan Matematika UNISMA,” jelasnya.
Sementara itu, LIMAS sendiri diikuti sekitar 200 peserta, dengan sekitar 100 peserta berhasil lolos ke babak final. Peserta datang dari berbagai daerah, termasuk Mamuju (Sulawesi), Kerinci (Jambi), Bali, Balikpapan (Kalimantan), hingga Jakarta, menunjukkan jangkauan nasional kegiatan ini.
Untuk para pemenang, UNISMA memberikan berbagai bentuk apresiasi, mulai dari uang tunai, piala, medali, hingga tabungan pendidikan.
“Gold medal mendapatkan satu juta rupiah, silver 750 ribu rupiah, dan bronze 500 ribu rupiah. Seluruh finalis juga mendapatkan tabungan pendidikan yang bisa dicairkan jika menjadi mahasiswa UNISMA,” kata Isbadar.
Selain itu, peserta terpilih dari Pra-University dan LIMAS juga mendapatkan golden ticket sebagai jalur khusus masuk Program Studi Pendidikan Matematika UNISMA.
Isbadar menegaskan bahwa LIMAS secara khusus menyasar sekolah dan madrasah berbasis keislaman, termasuk pondok pesantren.
“Fokus LIMAS memang untuk sekolah berbasis keislaman, karena mitra UNISMA banyak berasal dari madrasah dan pesantren. Untuk lomba matematika umum, kami punya event lain bernama DPHI yang digelar setiap September,” jelasnya.
Menurutnya, prestasi matematika di tingkat nasional ini memiliki nilai strategis, baik bagi siswa, guru, maupun sekolah. Bagi siswa, prestasi LIMAS dapat digunakan sebagai jalur prestasi masuk perguruan tinggi, termasuk UNISMA.
Bagi guru, kegiatan ini memberikan pengalaman profesional dan kesempatan menghasilkan karya berupa buku ber-ISBN melalui program GEMA (Gerakan Menulis Guru Matematika). Sementara bagi sekolah, ajang ini menjadi sarana branding prestasi akademik.
Kegiatan ini sepenuhnya dikelola oleh dosen Pendidikan Matematika UNISMA, dengan melibatkan mahasiswa secara terbatas di bidang IT dan desain.
“Pengelolaannya kami lakukan secara efisien oleh dosen. Mahasiswa hanya terlibat sesuai kompetensinya, karena mereka juga memiliki agenda program kerja lain,” ujarnya.
Isbadar memastikan bahwa LIMAS, Pra-University, dan GEMA akan menjadi agenda tahunan.
“Ini event perdana kami, dan ke depan akan kami selenggarakan rutin setiap tahun. Tujuannya agar Prodi Pendidikan Matematika UNISMA semakin dikenal dan memberi sumbangsih nyata bagi dunia pendidikan,” pungkasnya.(zul)








