Kabupaten Malang, blok-a.com – Petrokimia Gresik mendorong peningkatan produktivitas petani cabai rawit di Jawa Timur melalui Pestani Rawit Groo Festival yang digelar di Desa Belung, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang pada Kamis (13/8/2026). Program ini diikuti 290 petani dari Malang, Kediri, Mojokerto, Blitar, dan Probolinggo. Tidak sekadar kompetisi, kegiatan ini memadukan praktik budidaya langsung di lahan, pendampingan petani, pemanfaatan teknologi hingga edukasi pertanian.
Direktur Keuangan dan Umum Petrokimia Gresik, Adityo Wibowo, menyampaikan Jawa Timur memiliki posisi penting dalam produksi cabai rawit nasional. Karena itu, peningkatan produktivitas agar petani naik kelas menjadi salah satu hal yang perlu terus didorong.
“Kami ingin mendorong petani cabai rawit di Jawa Timur untuk terus meningkatkan hasil panen melalui pemupukan berimbang, pemanfaatan teknologi, dan praktik budidaya yang tepat, sehingga hasil panen semakin baik dan usaha tani semakin menguntungkan. Komitmen ini kami wujudkan melalui Pestani Rawit Groo Festival ini,” ujar Adityo.
Jawa Timur tercatat memiliki luas panen cabai rawit mencapai 85.759 hektare dengan rata-rata produktivitas 7,04 ton per hektare. Potensi tersebut dinilai perlu dioptimalkan untuk menjaga pasokan sekaligus memperkuat ketahanan pangan.
Dalam kategori Groo Field Creation, peserta menerapkan paket budidaya yang telah disiapkan Petrokimia Gresik sejak masa tanam hingga panen. Konsepnya menggunakan mini demplot kolaboratif sehingga kemampuan budidaya peserta dapat dilihat langsung di lahan.
Penilaian dilakukan berdasarkan berat total 54 buah cabai rawit dengan bobot 80 persen. Sementara dokumentasi proses budidaya mendapat porsi penilaian 20 persen.
Angka 54 tersebut sengaja dipilih bertepatan dengan usia Petrokimia Gresik yang tahun ini memasuki HUT ke-54. Daconi mengungkapkan, kompetisi tersebut tidak hanya bertujuan mencari petani dengan hasil terbaik. Penerapan teknik budidaya secara langsung diharapkan dapat menjadi contoh yang bisa diterapkan petani lainnya.
“Kompetisi ini tidak hanya mencari petani dengan hasil panen terbaik, tetapi juga mendorong peserta untuk belajar dan membuktikan langsung penerapan budidaya yang lebih terarah di lahan masing-masing. Kami juga berharap budidaya yang mampu memberikan hasil optimal ini dapat diduplikasi oleh petani lain di Jawa Timur, sehingga manfaat dari program ini semakin luas lagi,” ungkapnya.
Selain praktik di lahan, Petrokimia Gresik juga memperkenalkan pendekatan pertanian berbasis teknologi dan data. Salah satunya melalui aplikasi AgrooFertile yang menggabungkan teknologi AI, layanan agronomi, dan basis data untuk membantu petani mengambil keputusan dalam budidaya.
Petani juga diperkenalkan dengan Buku Kesuburan Tanah sebagai referensi untuk memahami kondisi lahan, pentingnya pengujian tanah hingga penerapan pemupukan berimbang.
“Kami ingin teknologi hadir bukan sekadar sebagai alat, tetapi menjadi solusi yang benar-benar membantu petani mengambil keputusan, mengelola lahannya dengan lebih baik, dan menghasilkan produktivitas yang lebih tinggi.” tutur Adityo.
Program tersebut juga dikembangkan melalui Groo Plant Creator, yang mengajak petani membagikan pengalaman bertanam melalui media sosial. Sementara Groo Plant Partner melibatkan kreator atau influencer untuk memperluas edukasi pertanian, termasuk kepada generasi muda.
Pestani Rawit Groo Festival merupakan bagian dari Program Pestani yang dikembangkan Petrokimia Gresik untuk pemberdayaan sekaligus kompetisi budidaya petani di Jawa Timur.
Hingga Juni 2026, program tersebut telah menjangkau 782 petani di 14 kabupaten. Komoditas yang dikembangkan meliputi semangka di kawasan Tapal Kuda, melon di wilayah Pantura, bawang merah melalui Pestani Bawang Merah Nyawiji, serta cabai rawit melalui Pestani Rawit Groo Festival.
“Pestani kami hadirkan untuk mendampingi petani dari lahan, bukan hanya dari ruang diskusi, karena kami percaya produktivitas harus dibuktikan melalui praktik nyata. Ketika pengetahuan, teknologi, dan semangat petani bertemu di satu lahan, kami yakin akan lahir pertanian Jawa Timur yang semakin produktif, berdaya saing, dan berkelanjutan,” pungkas Adityo. (yog)








