Kabupaten Malang, blok-a.com – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malang menyiapkan pengembangan pembenihan bawang putih lokal melalui penanaman tahap kedua seluas 60 hektare pada Oktober-November 2026. Program tersebut ditargetkan menghasilkan sekitar 600 ton benih bawang putih untuk memperkuat ketersediaan benih lokal.
Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan Kabupaten Malang, Avicenna M. Saniputera mengatakan, program pembenihan tersebut merupakan kolaborasi dengan pemerintah pusat. Hasil panen benih nantinya akan kembali diambil Kementerian Pertanian untuk disalurkan kepada petani sebagai bahan tanam produksi bawang putih konsumsi.
“Ini baru produksi benih, belum menyangkut produksi untuk konsumsi. Nanti benih ini akan diambil lagi oleh Kementerian Pertanian untuk disuplai dan ditanam lagi kepada para petani untuk produksi,” kata Avicenna.
Pada tahap pertama, program pembenihan telah mencakup sekitar 20 hektare lahan. Penanaman dilakukan di Kecamatan Wagir dan Jabung, dengan salah satu lokasi berada di Desa Sumbersuko. Dari luasan tersebut, sebagian tanaman mulai memasuki masa panen.
“Target kita tahap pertama ini sekitar 200 ton. Yang sudah tanam sekitar 20 hektare, tetapi yang panen baru sekitar 10 hektare,” ujarnya.
Avicenna menambahkan, tahap kedua akan memperluas penanaman ke enam kecamatan, yakni Pujon, Jabung, Ngajum, Wonosari, Ampelgading, dan Sumbermanjing. Penanaman dijadwalkan berlangsung pada Oktober-November mendatang.
“Yang tahap dua nanti ada di enam kecamatan. Oktober-November untuk musim tanam berikutnya,” jelasnya.
Dengan tambahan lahan 60 hektare tersebut, produksi benih dari program pembenihan ditargetkan meningkat sekitar 600 ton. Jika target tahap pertama dan kedua tercapai, total produksi benih dapat mencapai sekitar 800 ton.
“Kalau 60 hektare ini terpenuhi, kita ada tambahan 600 ton. Jadi totalnya bisa 800 ton,” tuturnya.
Program tersebut sekaligus diarahkan untuk meningkatkan produktivitas bawang putih lokal. Saat ini produktivitas benih yang dikembangkan masih berada di kisaran 9-10 ton per hektare. Pemerintah berharap melalui penggunaan benih yang lebih baik, produktivitas dapat meningkat hingga 15-20 ton per hektare.
“Benih itu yang penting. Benihnya harus bagus sehingga produktivitas bisa meningkat 15 sampai 20 ton per hektare. Yang sekarang sekitar 9 sampai 10 ton,” terang Avicenna.
Menurutnya, salah satu tantangan pengembangan bawang putih lokal adalah kualitas dan ukuran umbi yang masih kalah bersaing dengan bawang putih impor. Bawang putih lokal dinilai memiliki keunggulan dari sisi rasa, tetapi tampilan dan ukuran menjadi salah satu faktor yang memengaruhi minat pasar.
“Benih kita itu bawang lokal, unggul di rasa. Tetapi dari ukuran dan tampilannya kita kalah dengan bawang impor. Begitu masuk pasar, masyarakat kurang tertarik,” ujarnya.
Karena itu, pemerintah mendorong riset dan inovasi untuk mendapatkan benih dengan kualitas yang lebih baik, tidak hanya dari sisi rasa tetapi juga produktivitas.
“Kita harapkan ada riset dan inovasi bagaimana mencari alternatif benih yang lebih bagus, tidak hanya rasa, tetapi produktivitas juga meningkat,” ujarnya.
Untuk tahap awal, benih yang dikembangkan berasal dari varietas Lumbu Hijau. Sementara bantuan benih dari Polri melalui Kapolda Jawa Timur menggunakan varietas Sangga Sembalun yang disebut memiliki potensi produktivitas lebih tinggi.
“Kalau di sini sekarang dikembangkan dari Kementerian Pertanian, Lumbu Hijau. Kalau yang disumbang dari Polri itu Sangga Sembalun, yang informasinya punya produktivitas lebih bagus, bisa 15-20 ton,” jelas Avicenna.
Avicenna menambahkan, pengembangan bawang putih juga harus memperhatikan kondisi geografis. Tanaman tersebut membutuhkan dataran tinggi dengan suhu tertentu serta ketersediaan air yang cukup saat masa tanam.
“Bawang putih itu sebenarnya untuk dataran tinggi karena mengejar cuaca dan suhu. Di atas 800 meter, sedangkan lokasi ini sekitar 1.000 sampai 1.100 meter. Saya rasa pengembangan ke atas bisa lebih bagus selama sumber airnya ada,” beberkan.
Ia menjelaskan, kebutuhan air bawang putih juga harus dijaga. Air yang cukup diperlukan saat masa tanam, tetapi kondisi terlalu basah justru dapat menyebabkan tanaman rusak. Sebaliknya, kondisi lebih kering dibutuhkan menjelang panen.
“Waktu tanam airnya harus cukup, tidak boleh berlebih karena bisa busuk. Saat mau panen harus kering,” pungkasnya. (yog/bob)








