Blitar, blok-a.com – Pemerintah Kota Blitar menggelar Kirab Bedhol Pusaka dan Festival Lentera, Jumat (31/05/2024) malam. Festival di Blitar ini rutin setiap tahun digelar di Kota Blitar, menjelang hari lahir Pancasila, tiap 1 Juni.
Kirab Bedhol Pusaka dan Festival Lentera merupakan rangkaian acara Grebeg Pancasila untuk memperingati Hari Lahir Pancasila.
Kirab diawali dengan penyerahan pusaka berupa bendera merah putih, teks proklamasi, lambang burung Garuda oleh Wali Kota Blitar, Santoso kepada pasukan bregodo. Selanjutnya, pasukan bregodo berjalan kaki mengarak pusaka dari Istana Gebang menuju Kantor Wali Kota Blitar sejauh 1,5 kilometer.
Di belakang pasukan bregodo terdapat pasukan paskibraka yang membawa bendera merah putih dan disusul dengan arak-arakan peserta Festival Lampion. Total ada 35 perwakilan dari sekolah dan OPD yang menjadi peserta Festival Lampion.
Ribuan warga memadati sepanjang jalan mulai Jalan Sultan Agung, Jalan Jenderal Sudirman, Jalan A Yani sampai Jalan Merdeka, untuk menyaksikan Kirab Bedhol Pusaka dan Festival Lentera.
Wali Kota Blitar, Santoso mengatakan, Kirab Bedhol Pusaka dan Festival Lentera ini mengawali rangkaian acara Grebeg Pancasila. Selanjutnya pada 1 Juni 2024 pagi akan digelar upacara peringatan Hari Lahir Pancasila dan kirab Gunungan Lima dari Alun-alun menuju Makam Bung Karno.
“Kirab Bedhol Pusaka dan Festival Lentera merupakan rangkaian kegiatan Grebeg Pancasila untuk memperingati Hari Lahir Pancasila,” kata Santoso.
Kirab Bedhol Pusaka dan Festival Lentera tersebut, sebagai lambang pencerahan kepada masyarakat Kota Blitar agar seluruh perilaku dan tindakan tanduknya dijiwai dengan Pancasila.
“Nantinya pusaka yang dibawa ini akan diinapkan semalam di Balai Kota Blitar, dan besok setelah upacara Grebeg Pancasila diarak bersama Gunungan Lima dari Alun-alun ke Makam Bung Karno. Gunungan lima dari hasil bumi ini melambangkan lima sila Pancasila,” pungkasnya.
Sementara Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Blitar, Edy Wasono mengatakan, Kirab Bedhol Pusaka dan Festival Lentera ini, konsepnya lebih tradisional dan menonjolkan nilai-nilai Pancasila. Bahkan, drum band para siswa SMP yang biasanya ikut acara juga ditiadakan.
“Untuk kali ini tidak ada drum band, tapi diganti karawitan. Memang kita menonjolkan budaya kita, yang harus dilestarikan,” kata Edy Wasono.
Namun sayang, kegiatan Bedhol Pusaka dan Festival Lentera tersebut, terasa kehilangan kesakralannya. Lantaran masih banyak peserta yang memutar lagu tidak berkaitan dengan tema perjuangan maupun Pancasila.
Bahkan sound horeg dan lagu-lagu DJ (disck jockey) dangdut seperti Cinta Bojone Uwong, Selendang Biru hingga Mendua yang tidak ada kaitannya dengan Pancasila atau Bung Karno, justru menggema di sepanjang jalan yang dilalui Kirab Bedhol Pusaka dan Festival Lentera tersebut.
Salah satu penonton, Antok mengeluhkan, beberapa peserta justru memutar lagu DJ dangdut seperti Cinta Bojone Uwong, Selendang Biru hingga Mendua yang tidak ada kaitannya dengan Pancasila atau Bung Karno.
“Lagunya kok seperti itu. Padahal pawai ini banyak ditonton oleh anak-anak dan siswa. Namun beberapa peserta justru memutar lagu DJ dangdut. Kalau seperti ini, nilai kesakralannya hilang,” keluhnya.
Lebih lanjut Antok menandaskan, dan yang lebih memprihatinkan adalah lagu-lagu DJ tersebut, justru diputar oleh sejumlah OPD Pemkot Blitar. Padahal para peserta dari SMP bisa menampilkan miniatur lampion yang menarik dengan pertunjukan tari-tari tradisional tanpa sound horeg dan lagu DJ dangdut.
“Kenapa justru yang OPD seperti itu, padahal peserta dari sekolah-sekolah justru lebih bagus meski tanpa sound horeg dan lagu-lagu DJ,” pungkasnya. (jar/bob)








