Gaya Tulisan Neo Jengki, Asli Malang Terinspirasi Warisan Budaya Kayutangan

Gaya Tulisan Neo Jengki, Asli Malang Terinspirasi Warisan Budaya Kayutangan
Gaya Tulisan Neo Jengki, Asli Malang Terinspirasi Warisan Budaya Kayutangan

Kota Malang, blok-a.com – Dimas Fakhruddin (31), atau dikenal juga sebagai Dimazfakhr adalah seorang praktisi desain grafis Kota Malang. Ia adalah salah satu pencetus pembuatan gaya tulisan atau font Neo Jengki yang terinspirasi dari warisan budaya Kota Malang terutama daerah Kayutangan.

“Neo Jengki ini bukan font pertama saya, tapi yang kedua. Ini hasil riset saya selama dua tahun di kawasan Kayutangan dari tahun 2021,” terang Dimas saat diwawancara Blok-a.com pada hari Selasa (12/12/2023).

Ia mengatakan yang menjadi inspirasi gaya tulisan Neo Jengki adalah rumah-rumah berdesain jengki di gang-gang daerah Kayutangan. Dikolaborasikan dengan signage-signage pertokoan di daerah sekitar, maka terciptalah font Neo Jengki ini dengan berkolaborasi bersama rekannya Fitra Dwivani.

Gaya Tulisan Neo Jengki, Asli Malang Terinspirasi Warisan Budaya Kayutangan
Dimas Fakhruddin (31), atau dikenal juga sebagai Dimazfakhr, pencetus gaya tulisan Neo Jengki

Dimas menerangkan, arsitektur jengki sendiri merupakan gaya arsitektur asli Indonesia yang mencuat di tahun 1950-1970 sebagai perlawanan terhadap dominasi gaya arsitektur “penjajah” dari Eropa. Sementara bentuk tipografi vernakular Neo Jengki mirip dengan tipografi plang-plang pertokoan lawas yang bentuknya tebal di garis horisontal dan ramping di garis vertikal.

Pendiri sekaligus pemilik Studio Desain Yumakiso tersebut mengatakan bahwa ia berniat besar untuk mengimplementasikan font ciptaannya ke beberapa tempat di Kota Malang, mengingat nilai sejarah dan budaya yang dimiliki.

“Tahun ketiga ini saya coba implementasi (font Neo Jengki) di Kota Malang, mungkin bisa dipasang di papan jalan atau billboard. Semoga saja saya bisa mengajukan (idenya) ke pemerintah kota atau yang berwenang,” ujarnya.

Namun ia berharap Pemerintah Kota Malang mau mendengarkan aspirasinya, karena menurut pengalaman selama ini ia masih kesulitan berkomunikasi dengan pihak pemerintah. “Mau mengajukan pun alurnya sulit kan, ditambah lagi dari pihak mereka (pemerintah) tidak full welcome,” terang Dimas.

Tak hanya untuk dirinya sendiri, ia berharap pemerintah juga lebih bisa mendengar suara masyarakat kreatif Kota Malang. Contohnya, dengan banyaknya signage yang mulai dipasang di Kota Malang seperti di Jalan Ijen, Jalan Soekarno-Hatta, dan yang terbaru yang juga menuai kontroversi di median jalan Kayutangan Heritage, ia berharap keterlibatan lebih dari masyarakat kreatif Kota Malang.

Kesulitan menembus birokrasi masih menjadi momok masyarakat kreatif Kota Malang. Contohnya saat pengajuan desain maskot Kota Malang yang lalu, sebenarnya banyak ide kreatif yang muncul, namun terbentur birokrasi yang rumit.

Akhirnya, setelah maskot tersebut diresmikan Pemerintah Kota Malang, banyak masyarakat kreatif yang membandingkan desainnya dengan desain maskot milik mereka sendiri. “Kita kan sama-sama ingin Kota Malang bagus sebenarnya. Jangan sampai terjadi lagi (perbandingan desain resmi dengan milik masyarakat kreatif).”