Ini Penjelasan Pakar Soal Fenomena Bahasa Lo-Gue di Kalangan Mahasiswa di Malang

Ilustrasi : Komunikasi sehari-hari menggunakan gaya bahasa Lo Gue diminati anak muda untuk cicipi pergaulan ibukota. (Foto : Widya Amalia/Blok-A)
Ilustrasi : Komunikasi sehari-hari menggunakan gaya bahasa Lo Gue diminati anak muda untuk cicipi pergaulan ibukota. (Foto : Widya Amalia/Blok-A)

Kota Malang, Blok-a.com – Fenomena penggunaan panggilan lo-gue yang tengah digandrungi anak muda di Kota Malang memang tengah jadi perhatian. Ternyata, gaya bahasa tersebut sudah menjadi bagian dari pertumbuhan komunikasi sosial di tengah muda-mudi di Kota Malang.

Di Universitas Brawijaya sendiri, fenomena tersebut sudah lama terjadi.

“Fenomena ini sudah lama sekali terjadi. Karena kalau di Universitas Brawijaya sediri memang diserbu oleh mahasiswa asal Jabodetabek (Jakarta-Bogor-Depok-Tangerang-Bekasi). Seperti yang kita tahu, ‘lo gue’ itu adalah bahasa khas Jabodetabek,” ujar dosen di Departemen Antropologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Brawijaya (FIB UB) Malang, Dr. Hipolitus K. Kewuel, pada (22/11/2023).

Seperti yang diketahui, “lo” sendiri adalah cara seseorang untuk menyebut “kamu” dan “gue” adalah panggilan terhadap diri sendiri seperti “saya” atau “aku”. Persebaran bahasa tersebut merupakan konsekuensi dari masifnya mahasiswa Jabodetabek yang berkuliah di Kota Malang.

Fenomena tersebut semakin membanjir usai keinginan mahasiswa yang berasal dari Jawa Timur dan sekitarnya, ingin mencicipi gaya hidup metropolitan.

Dalam kacamata antropologis, bahasa Jabodetabek mampu mewakili gaya hidup metropolitan yang diimplementasikan dalam percakapan sehari-hari. Ada sebuah kebanggaan untuk menggunakan bahasa tersebut sebagai bentuk ekspresi diri bahwa seseorang itu sudah menjadi bagian dari kehidupan metropolis.

“Apalagi anak mahasiswa yang secara psikologis masih membangun identitas. Mungkin kalau ditanya mereka akan jawab tidak seperti itu. Tapi kenyataannya, itulah yang terjadi,” lanjut dia.

Sehingga, para penutur bahasa ‘lo gue’ tersebut bisa merasakan kepuasan tersendiri sebagai bagian dari budaya ibu kota, di Kota Malang. Mereka tidak perlu susah-susah ke pergi ke wilayah Jakarta dan sekitarnya, cukup bergaul di kampus saja.

Proses internalisasi antar penutur bahasa Jabodetabek dan masyarakat Jawa Timur sekitarnya tidak terjadi karena paksaan. Tidak ada suatu keharusan dari salah satu pihak untuk mengikuti gaya bahasa daerah satu sama lain. Hal ini murni karena interaksi yang terjadi sehari-hari. Bahkan, gaya hidup tersebut sudah tidak dipengaruhi umur.

“Internalisasi ini terjadi mengalir begitu saja, ada yang dari beberapa wilayah di sini (lingkungan perkuliahan) kalau bicara sudah macam orang Jakarta. Dan di rentang usia berapa, itu bahkan bukan dalam konteks bahwa bukan umur berapa dia bisa meniru dan sebagainya. Tapi memang gaya hidup bisa menimpa siapa pun. Siapa pun bisa terkena arus itu,” ujar dosen pengampu mata kuliah pluralisme ini.

Ke depan, lanjut dia, aliran globalisasi tersebut akan terus berjalan. Hipo menyebut memang demografi masyarakat Kota Malang sangat dinamis. Sehingga, dia memprediksi akan semakin banyak fenomena kebudayaan lain yang akan terjadi.

“Kita harus menyiapkan diri kita untuk berhadapan dengan fenomena-fenomena semacam itu,” pungkas Ketua Departemen Seni Antropologi Budaya FIB UB itu. (mg2)