Mahasiswa Malang Demam Ngomong Lo Gue, Biar Dianggap Gaul?

Tongkrongan komunitas muda-mudi, mahasiswa di Kota Malang (Foto: Widya Amalia/Blok-a.com)
Tongkrongan komunitas muda-mudi, mahasiswa di Kota Malang (Foto: Widya Amalia/Blok-a.com)

Kota Malang, Blok-a.com – “Lo Gue end!” Jargon ini pertama kali populer lewat tayangan televisi. Kata lo yang berarti kamu, dan gue yang berarti aku, kini amat meluas penggunaannya di Indonesia.

Ini tak lepas dari pengaruh industri televisi yang notabene memang terkonsentrasi di Ibu Kota Jakarta. Di mana lo dan gue menjadi kosakata lazim dalam pergaulan masyarakat sehari-hari.

Di Kota Malang sendiri, belakangan dua istilah ini makin sering terdengar, khususnya di kalangan mahasiswa. Salah satu penggunanya, mahasiswa semester tiga bernama Muhammad Rifa’ul.

Lelaki asal Sidoarjo ini mengaku kerap menggunakan bahasa lo-gue, ketika nongkrong bersama teman-teman dan saat di tengah komunitas hobinya.

Menurutnya, Kota Malang punya lebih banyak komunitas dengan berbagai jenis aktivitas, tidak seperti di Sidoarjo. Di tengah lingkungan baru di Kota Malang inilah dia mengetahui beberapa kalimat yang lumrah digunakan dalam pergaulan.

“Soalnya banyak ya kan kayak sekitar aku gitu. Ajakan-ajakan kayak ‘Lo ga join?’ atau ‘Gue sih skip’ gitu-gitu sih,” ujar dia.

Alasan Ikut Pakai Bahasa Lo-Gue

Kebanyakan teman nongkrongnya masih dalam lingkup perkuliahan. Maka, menurut Muhammad Rifa’ul, mau tidak mau ia harus mengikuti cara berkomunikasi teman-temannya itu.

Dorongan untuk mengikuti gaya obrolan di sirkel sosial ini juga karena ingin dianggap tidak kalah gaul. Selain ada rasa asyik menggunakan bahasa lo gue ketika sedang nongkrong bersama.

Lelaki yang kerap dipanggil Cipung ini menyebut, biasanya dia nongkrong di kopi daerah yang dekat dengan UB. Seperti Nakoa, AADK, dan beberapa kopian baru di Kayutangan Heritage. Obrolan tongkrongannya seputar gaya hidup, tugas kuliah, atau asmara.

Kuliah di Malang membuatnya bertemu dengan banyak mahasiswa yang berasal dari berbagai daerah. Kebanyakan, Cipung bergaul dengan orang Jabodetabek dan sekitarnya. Namun, tidak jarang Cipung juga cocok ngobrol dengan mahasiswa dari daerah tetangganya di Jawa Timur.

“Seru sih, seru aja. Ini buat aku upaya berbaur aja ya sama orang-orang sana. Ya, gimana orang mereka juga sering nyebutnya wilayah sini (Jawa Timur) itu kan Jawa. Sering tuh temen-temen bilang ‘Enak ya kuliah di Jawa’ lah apa kata gue mah Jakarta juga Jawa. Tapi ya kalo waktunya ngomong sama orang sesama Jawa Timur juga kayak temen aku tuh dia dari Jombang ya ‘koen koen’,” ujar dia berseloroh.

Respon Lingkungan Sedaerah

Ketika ditanya soal respon teman-teman sesama Jawa Timur ketika dia menggunakan panggilan “lo gue,” dia menyebut tidak ada keluhan. Hanya saja, pada awalnya lidahnya terlalu kelu. Di mana, ketika itu lidahnya masih medhok atau aksen jawa-nya terlalu kental. Hal itu memicu tawa dari teman-temannya. Namun, lama-kelamaan dia merasa bisa menguasainya.

Sejauh ini, Cipung merasa nyaman mengikuti gaya bahasa tersebut. Dia tidak minder ketika bicara dengan orang asli ibu kota. Selama ini, sebagai seseorang yang tinggal di Sidoarjo, dia sangat jarang bertemu dengan orang dari luar kota, tak terkecuali dari ibu kota. Sehingga mengikuti gaya bahasa semacam ini membuatnya berbaur lebih baik.

“Ga cuma aku aja temen-temen aku tuh juga sama aja. Udah nyesuain aja masuk Nakoa ya ‘ela elo ela elo’ masuk kosan ya ‘koan koen’ yang penting kita berteman sama semua orang ga pilih-pilih. Biar ga ada kesenjangan aja kayak ‘waduh anak Malang gangerti ngomong apa’ atau kayak ‘Duh metesek nemen seh arek Jakarta gak gelem dolen karo kene’ gitu-gitu aja,” pungkas dia. (mg2/gni)