Kota Malang, Blok-a.com – Nama Kuto Bedah yang kini dikenal sebagai kawasan permukiman hingga area pemakaman di Kota Malang ternyata menyimpan jejak sejarah panjang. Wilayah yang berada di Kecamatan Kedungkandang ini diyakini pernah menjadi ibu kota pertama Kerajaan Tumapel atau Singosari pada masa awal berdirinya kerajaan tersebut.
Pemerhati Sejarah Kota Malang Agung Buana menceritakan, sebelum berkembang menjadi Kerajaan Singosari, wilayah Tumapel masih berstatus akuwu atau daerah setingkat pemerintahan kecil di bawah kekuasaan Kerajaan Kediri.
“Ketika Tumapel masih setingkat akuwu yang dipimpin Tunggul Ametung, wilayah Malang ini masih berada di bawah kekuasaan Kerajaan Kediri,” ujar Agung.
Ia menambahkan, perubahan besar terjadi setelah Ken Arok berhasil mengalahkan Kediri dalam pertempuran di Ganter atau Ngantang pada 1222. Kemenangan tersebut membuat Tumapel naik status menjadi sebuah kerajaan yang membutuhkan pusat pemerintahan.
Sebelum dikenal menjadi nama Kuto Bedah, lanjut Agung, kawasan tersebut dikenal terlebih dahulu dengan nama Kutaradja. Pergantian penyebutan tersebut juga diperkirakan berjarak hingga ratusan tahun
“Ibu kota yang dipilih waktu itu berada di wilayah yang sekarang dikenal sebagai Kuto Bedah. Dulu namanya bukan Kuto Bedah, tetapi Kutaradja. Kutaradja menjadi Kuto Bedah itu jaraknya hampir 500 tahun,” jelasnya.
Baca juga: Jejak Freemason di Kota Malang
Agung beranggapan, pemilihan wilayah tersebut bukan tanpa alasan. Secara geografis, kawasan itu dinilai strategis karena diapit oleh dua sungai besar yang menjadi benteng alami.
“Wilayah itu diapit Sungai Brantas di sisi barat dan Sungai Amprong di sisi timur. Secara militer itu sangat strategis karena memiliki benteng alam dan berada di dataran yang lebih tinggi,” katanya.
Pada masa itu jalur menuju wilayah tersebut juga berbeda dengan kondisi saat ini. Jalur utama dari kawasan Singosari menuju pusat pemerintahan lebih memutar mengikuti jalur lama melalui Wendit, Pakis, hingga Tumpang, sebelum menuju kawasan Kutaradja.
“Kalau sekarang terasa jauh, tapi dulu jalurnya memang melalui Singosari, Wendit, Pakis, Tumpang baru ke wilayah Kutaraja. Itu jalur purba karena belum ada jembatan di Sungai Brantas,” ungkapnya.
Seiring perkembangan kerajaan, pusat pemerintahan Singosari kemudian dipindahkan dari Kutaradja ke wilayah Singosari. Kawasan tersebut pun berubah menjadi permukiman biasa.
Namun sejarah panjang wilayah itu kembali tercatat pada abad ke-18 ketika menjadi basis pertahanan Pangeran Malaya Kusuma, cucu dari Untung Surapati, yang mempertahankan Malang dari serangan VOC. Pertempuran besar terjadi pada 29 Desember 1776, ketika VOC berhasil menaklukkan wilayah tersebut.
“Ketika Malang jatuh ke tangan VOC pada 29 Desember 1776, Kutaradja yang sebelumnya menjadi pusat pemerintahan akhirnya disebut sebagai Kuto Bedah, yang artinya kota yang berhasil ‘dibedah’ atau ditaklukkan,” jelas Agung.
Jangan Lewatkan: Sejarah Titik Nol Kota Malang
Secara wilayah, kawasan Kuto Bedah pada masa itu cukup luas. Area tersebut diperkirakan meliputi beberapa wilayah di Kota Malang saat ini hingga menjangkau sisi timur. Yakni, kawasan dengan nama belakang ‘puro’, mulai dari Lesanpuro, Madyopuro, hingga Sekarpuro.
“Wilayahnya dulu berada di antara Sungai Brantas dan Sungai Amprong, meliputi daerah Muharto, Jodipan, Kebalen, Mergosono hingga Polehan, dan ke arah timur” terangnya.
Kini nama Kuto Bedah lebih dikenal sebagai kawasan pemakaman umum. Namun di lokasi tersebut beberapa kali ditemukan benda arkeologis yang diduga berasal dari bangunan kuno.
“Ketika ada penggalian makam, beberapa kali ditemukan reruntuhan bangunan yang diduga bagian dari candi atau struktur pertahanan,” pungkasnya. (yog/ova)








