Blok-a.com – Tradisi ziarah kubur di hari Lebaran telah menjadi ritual yang kental dalam budaya
muslim di Malang saat Lebaran. Namun, bagaimana sejarahnya dan apa makna serta signifikansinya?
Menurut berbagai sumber, tradisi ziarah kubur telah eksis sejak penyebaran Islam di Nusantara oleh para Walisongo. Mereka mengembangkan praktik nyekar atau ziarah kubur yang telah ada sejak masa kerajaan Hindu atau Buddha, namun kemudian disesuaikan dengan ajaran Islam.
Dari budaya di Arab sendiri, pada awalnya, ziarah kubur dalam Islam dilarang oleh Nabi Muhammad SAW karena khawatir akan melemahkan iman umat Islam yang masih rapuh.
Praktik ini pada masa pra-Islam sering kali dihubungkan dengan permohonan kepada arwah orang yang telah meninggal, mirip dengan penyembahan arwah leluhur yang umum di beberapa budaya.
Namun, seiring dengan semakin kuatnya iman umat Islam, Nabi Muhammad SAW kemudian
membolehkan ziarah kubur sebagai bagian dari praktik keagamaan.
Hal ini menjadikan ziarah kubur sebagai momen untuk mengingat kematian atau dzikr al maut, yang dianggap penting dalam memperkuat iman dan mengingatkan akan kefanaan hidup di dunia.
Hubungan ziarah kubur dengan puasa dan Hari Raya Lebaran juga sangat erat. Puasa bukan hanya sekadar menahan lapar dan haus, tetapi juga sarana untuk penyucian jiwa dan pembersihan dosa.
Sementara itu, Hari Raya Lebaran adalah momen untuk mempererat silaturahmi dan memaafkan kesalahan sesama.
Dengan melakukan ritual puasa yang memperkuat keimanan dan memohon maaf secara lahir dan batin kepada sesama, ziarah kubur menjadi bagian dari tindakan rohani yang lengkap. Ini juga menjadi kesempatan untuk merenungkan akhirat dan mengingat kembali akhir kehidupan di dunia.
Sebagai momentum mengingat bahwa kehidupan manusia pada akhirnya akan berakhir di dalam lubang kubur, tradisi ziarah kubur di hari Lebaran memberikan makna yang lebih mendalam bagi umat Islam di Malang.
Hal ini tidak hanya menjadi ritual keagamaan, tetapi juga momen introspeksi dan refleksi atas
kemanusiaan dan kedekatan dengan Sang Pencipta. (art/bob)








