Pengunjung Sepi, Pedagang di Sekitar Wisata Tlogomas Turut Alami Kenyataan Pahit

Kondisi sejumlah spot di Taman Rekreasi Tlogomas yang kurang terawat (foto: M. Naufal Abiyyu/Blok-a.com)
Kondisi sejumlah spot di Taman Rekreasi Tlogomas yang kurang terawat (foto: M. Naufal Abiyyu/Blok-a.com)

Malang, Blok-a.com – Deretan warung kecil di sekitar Wisata Tlogomas kini tampak lebih tenang dibandingkan beberapa tahun lalu. Kursi-kursi kosong, aroma masakan yang tak lagi seramai dulu, dan hanya sesekali suara motor pengunjung lewat menjadi rutinitas baru bagi Bambang (60), pemilik salah satu warung makan tertua di area itu.

Bambang sudah menjaga warungnya sejak lama, jauh sebelum pengelolaan wisata berpindah tangan. Ia mengaku sudah menghabiskan hampir separuh hidupnya di tempat itu.

“Sebelum pemilik ini, sudah 20 tahun,” tuturnya kepada Blok-a.com, Rabu (12/11).

Selama dua dekade itu, ia merasakan masa ketika Wisata Tlogomas masih menjadi tujuan utama keluarga Malang. Hari-hari libur selalu padat. Anak-anak berlarian keluar kolam, orang tua menunggu sambil makan di warungnya, dan ia sendiri sibuk bolak-balik menyiapkan pesanan. Saat itu ia bahkan mempekerjakan karyawan.

“Ya betul,” katanya ketika ditanya apakah ia merasakan masa ramai-sepinya tempat tersebut.

Ketika diminta membandingkan kondisi dulu dan sekarang, ia hanya menghela napas panjang.

“Jauh, dulu ada karyawan, sekarang sudah tidak ada,” ucapnya.

Menurutnya, sepinya pengunjung bukan hanya menurunkan jumlah pelanggan, tetapi juga membuat sebagian pedagang lain memilih tutup lebih awal atau berhenti berjualan sama sekali.

Soal omzet, Bambang tidak menyebutkan angka pasti. Namun ia mengaku bahwa dulu hasil penjualan masih cukup untuk menyambung modal esok hari tanpa kesulitan.

“Wah kalau omset nggak bisa dihitung, pokoknya bisa dibuat jualan lagi,” katanya sambil tersenyum tipis.

Masa pandemi menjadi titik awal penurunan drastis jumlah pengunjung.

“Dari pandemi,” ujarnya singkat.

Meski pembatasan sudah lama dicabut, jumlah pengunjung tak lagi kembali seperti masa sebelum 2020.

Bambang menilai perubahan pola wisata masyarakat turut memengaruhi kondisi ini. Kini banyak tempat wisata baru yang menawarkan konsep lebih modern dan menarik bagi keluarga maupun anak muda.

“Sekarang kan banyak wisata-wisata toh, mas. Terus di sini juga harganya termasuk sebenarnya murah, mungkin kurang pengunjung atau perawatannya. Kalau perawatannya kan tiap Kamis dikuras jadi warung ini ditutup juga. Jadi hari Jumat airnya selalu bersih,” jelasnya.

Ketika ditanya apakah ada bantuan atau perhatian dari pemerintah untuk pedagang kecil di sekitar area wisata, Bambang menggeleng.

“Nggak ada,” jawabnya tegas.

Ia mengaku tidak menuntut banyak, hanya berharap ada pembenahan yang bisa membantu Tlogomas bangkit kembali. Namun belakangan, ia mulai pesimis.

“Itu tergantung manajemennya mas. Ini aja rencana akhir tahun warung ini tutup,” ujar Bambang. (mg1)

Penulis: Rosa Dwi Eliyah (Mahasiswa Magang UTM Bangkalan)