Pengalaman Warga Lowokwaru Kota Malang Puasa di Swiss, Kangen Suara Azan

Pengalaman Warga Lowokwaru Kota Malang Puasa di Swiss, Kangen Suara Azan
Pengalaman Warga Lowokwaru Kota Malang Puasa di Swiss, Kangen Suara Azan

Kota Malang, Blok-a.com – Kentalnya suasana Ramadan di Indonesia adalah berkah tersendiri bagi kita, karena suasana inilah yang banyak dirindukan oleh para perantau yang berada di luar negeri.

Kerinduan akan susasana puasa itu salah satunya dialami oleh Dian Kusumasari Zimmerli warga Kota Malang yang saat ini menetap di Safenwil, Kanton (provinsi) Aargau, Swiss. Dia tinggal di sana setelah menikah dengan warga negara tersebut.

Salah satu yang warga Dinoyo, Kecamatan Lowokwaru Kota Malang tersebut mengatakan bahwa kerinduannya adalah suara azan, serta pujian ataupun tilawatil Alquran saat puasa di Swiss.

Suara azan hingga tilawatil Alquran itu tidak terdengar olehnya karena masjid di sana tidak banyak. Jarak rumahnya ke masjid cukup jauh.

Pengalaman Warga Lowokwaru Kota Malang Puasa di Swiss, Kangen Suara Azan
Suasana toko di Swisss

“Secara keseluruhan rindu suasana adzan. Di sini masjidnya jauh banget, ada di luar region atau kalau di Indonesia di kecamatan lain baru ada masjid. Jadi pas momen tertentu saja atau kebetulan lewat baru mampir,” terang Dian.

Karena jarangnya masjid, maka Dian pun juga tak bisa mendengar seruan sahur dan adzan maghrip penanda berbuka puasa secara langsung. Oleh karena itu, untuk jadwal puasa, ia mendapatkan pemberitahuan langsung dari organisasi islam  tingkat kanton atau provinsi.

“Jadwalnya dari Kanton Aargau. Berbeda sekitar enam jam dengan waktu di Indonesia,” jelasnya.

Wanita yang sehari-hari mengurus toko bunga miliknya ini mengatakan ada tantangan tersendiri berpuasa di negeri orang yang memiliki empat musim seperti Swiss, karena matahari terbenam di waktu yang berbeda.

Jam berbuka puasa yang ditandai terbenamnya matahari dapat molor hingga hitungan jam. Dian mengakatan, waktu berpuasa yang paling pendek hanya sekitar 8 jam saat musim dingin, tapi saat musim panas lama puasanya bisa dua kali lipatnya.

“Puasa kali ini mulai hari ke-21 ada perubahan waktu mengikuti DST (daylight saving time). Tapi kalau Ramadan jatuh di musim semi atau musim dingin okelah. Yang paling berat itu kalau musim panas, berbukanya bisa jam sembilan malam,” terangnya.

Namun berapapun lamanya puasa tak menjadi factor yang menyurutkan semangat Dian dan keluarganya untuk tetap menyemarakkan Ramadan. Sebagai umat muslim ia tetap menyambut bulan penuh berkah ini dengan gembira.

“Sempat terpikir untuk membuat spanduk buat di toko bunga saya untuk mengucapkan Ramadan Kareem dan Ied Mubarak, tapi tidak sempat. Soalnya agak iri dengan negara Jerman dan Kota London yang muslimnya menyambut Ramadan dengan hiasan-hiasan dan lampu-lampu sepeti saat suasana natal,” terangnya. (art/bob)

Kirim pesan
Butuh bantuan?
Hai, apa kabar?
Apa yang bisa kami bantu?