Kota Malang, blok-a.com – Berikut ini adalah lima fakta terbaru tentang kasus mutilasi di kos Sawojajar Kota Malang.
Kasus mutilasi itu pelakunya adalah terapis pijat yang menyewa kamar kos di Sawojajar Kota Malang, Abdurahman. Sementara korbannya adalah AP pemuda asal Surabaya.
Kasus ini sebenarnya terjadi pada 15 Oktober 2023 lalu, namun baru terungkap pada awal Januari 2024.
Dari hasil pemeriksaan polisi, terdapat fakta-fakta baru tentang kasus mutilasi di kos Sawojajar Kota Malang itu yang sebelumnya belum terungkap. Fakta terbaru itu mengungkap bahwa pelaku juga merupakan dukun ilmu guna-guna atau pelet
Berikut ini adalah fakta terbarunya
1. Terapis Pijat, Sekaligus Dukun Ilmu Guna-Guna Pelet
Pelaku Abdurahman awalnya dikenal sebagai terapis pijat di Sawojajar Kota Malang. Namun, kekinian terungkap bahwa dia juga merupakan dukun yang mempunya ilmu guna-guna atau pelet di Sawojajar, Kota Malang.
Hal itu terungkap berdasarkan pengakuan pelaku tersebut. Pelaku tega menghabisi nyawa korban gegara jengkel terhadap korban yang protes ilmu peletnya tak mempan.
Tak hanya protes saja, korban juga tiba-tiba langsung memukulnya di kamar kos tersebut karena menilai ilmu guna-guna pelaku tak mempan.
“Dia (korban) tiba-tiba mukul. Mukul ngaplok terus ngeplak itu,” ujarnya.
Akhirnya, pelaku mengambil celurit di wastafel. Celurit itu dipakainya untuk membunuh AP. Keesokan harinya pada 16 Oktober 2023, AP dimutilasi dengan pisau potong yang baru saja dibeli.
2. Rp 300 Ribu untuk Menyewa Jasa Ilmu Pelet
Korban, AP menyewa jasa ilmu pelet atau guna-guna itu dengan harga Rp 300 ribu kepada Abdurahman, sang pelaku.
“Korban memberikan uang di awal ketika bertemu Rp 300 ribu, uangnya sudah digunakan (untuk kebutuhan) sehari-hari,” kata Kasatreskrim Polresta Malang Kota, Kompol Danang Yudanto
Ilmu guna-guna atau pelet itu agar membuat kekasih AP kelepek-kelepek terhadap AP.
Ritual pun dilakukan pada Juli 2023 lalu.
Sementara itu, ilmu pelet atau guna-guna ini didapat Abdurahman dari belajar sejak 2003. Sudah ada 75 pasien yang menggunakan jasa dukun sekaligus pelaku mutilasi di kamar kos Sawojajar Kota Malang itu.
3. Dapat Informasi Bahwa Pelaku Adalah Dukun Lewat Tinder
AP sebenarnya tidak kenal dengan Abdurahman. Sang korban mengenal Abdurahman adalah melalui aplikasi Tinder.
Melalui aplikasi Tinder itu, AP melihat iklan jasa ilmu guna-guna yang diiklankan oleh Abdurahman lewat aplikasi Tinder.
Nah dari situ, AP tertarik mencoba. Dia ingin memikat hati kekasihnya dengan ilmu guna-guna itu.
“Awalnya, korban dan pelaku mengenal melalui aplikasi tinder. Di Tinder pelaku mengiklankan jasa pijat dan jasa ilmu guna-guna. Korban menghubungi pelaku melalui wa (whatsapp) di aplikasi itu,” Kata Kasat Reskrim Polresta Malang Kota, Kompol Danang Yudanto.
Akhirnya pada Juli 2023, AP langsung ke praktik dukun ilmu guna-guna atau pelet itu di kamar kos di Sawojajar Kota Malang.
Ritual pun dilakukan pada waktu itu. Hingga akhirnya AP pada bulan Oktober 2023 protes. AP menilai ilmu peletnya tidak mempan. Hal ini dikarenakan hubungannya dengan kekasihnya renggang.
4. Ilmu Pelet atau Guna-Guna Sempat Ampuh
Jika sebelumnya hanya terdapat narasi bahwa ilmu guna-gunanya tidak ampuh, ternyata fakta tambahan terungkap. Fakta itu menyebutkan bahwa ilmu guna-guna itu sempat ampuh. Hal itu disebutkan oleh pelaku mutilasi sekaligus dukun guna-guna di Sawojajar Kota Malang, Abdurahman.
“Awalnya dia sama kekasihnya berjalan lancar sama kekasihnya,” kata Abdurahman saat rilis di Polresta Malang Kota.
Sementara itu, ritual ilmu guna-guna atau pelet itu dilakukan pada Juli 2023. Beberapa bulan sempat kekasih AP dan AP hubungannya lengket.
Namun sejak Oktober 2023 mulai renggang. Hal ini pun membuat AP tak percaya dengan ilmu pelet atau guna-guna itu. Dia pada 15 Oktober 2023 akhirnya ke kamar kos sekaligus tempat ritual dukun ilmu pelet atau guna-guna di Sawojajar Kota Malang itu.
Lawatannya ke sana, ternyata menjadi akhir hidupnya. Protes AP ternyata dijawab emosi dari Abdurahman sang pelaku mutilasi sekaligus dukun tersebut.
Akhirnya terjadi cekcok, baku hantam, hingga pembacokan menggunakan celurit oleh Abdurahman. AP tewas dan dimutilasi pada 16 Oktober 2023 atau keesokan harinya.
5. Dukun Belajar Ilmu Guna-Guna Sejak 2003
Pelaku mutilasi Abdurahman mengaku belajar ilmu guna-guna sejak tahun 2003 atau 21 tahun lalu. Dia belajar di Banten.
Selama praktiknya, dia sudah menerima pasien untuk ilmu guna-guna atau pelet itu sejumlah 75. Dalam ritualnya, Abdurahman menggunakan kartu sebagai media untuk ilmu guna-guna atau pelet.
Tarifnya sendiri belum terungkap. Namun, untuk tarif yang dikeluarkan korban mutilasi adalah Rp 300 ribu untuk menggunakan jasa ilmu pelet atau guna-guna tersebut.
Dia mempraktikan ilmu guna-guna atau peletnya sejak 5 tahun terakhir di sebuah kos di Sawojajar Kota Malang. Dia menyewa dua kamar kos. Satu kamar kos untuk praktik terapi pijat dan ritual ilmu pelet tersebut. Satu kamar lainnya untuk hidup bersama istrinya.
(ags/bob)








