Kota Malang, blok-a.com – Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Malang memetakan sejumlah titik rawan kemacetan saat momen Lebaran 2026 atau Idul Fitri 1447 Hijriah. Selain menjadi kota tujuan wisata, Kota Malang juga menjadi jalur perlintasan pemudik menuju Kota Batu, Kabupaten Malang hingga Blitar.
Kepala Dishub Kota Malang, Widjaja Saleh Putra, menyebut ada dua kategori titik rawan yang perlu diantisipasi. Yakni kawasan perdagangan dan jasa, serta ruas jalan utama yang menjadi jalur pergerakan kendaraan selama arus mudik dan balik.
“Kalau titik rawan kita bagi dua. Pertama tempat perdagangan dan jasa, kedua jalan-jalan yang dilalui kendaraan pemudik maupun wisatawan,” ujarnya.
Untuk kawasan perdagangan dan jasa, beberapa lokasi yang diprediksi padat antara lain Mall Olympic Garden (MOG), Pasar Besar Malang, Ramayana Malang, serta pusat perbelanjaan lain seperti Malang Town Square (Matos) dan Dinoyo Mall.
Selain itu, toko oleh-oleh khas Malang juga diperkirakan mengalami lonjakan pengunjung, terutama menjelang dan setelah Hari Raya.
Sementara untuk ruas jalan, Dishub memberi perhatian khusus pada jalur nasional dan provinsi yang melintasi Kota Malang. Di antaranya Jalan Raden Intan, Jalan Gatot Subroto, kawasan Kacuk, Jalan Ahmad Yani, Jalan Borobudur hingga Simpang Dinoyo dan arah Sengkaling.
“Malang ini kan kota destinasi sekaligus kota yang dilalui. Baik yang menuju Batu, ke kabupaten, maupun ke arah Blitar lewat Kota Malang,” jelasnya.
Dishub mencatat, berdasarkan evaluasi tahun sebelumnya, lonjakan kunjungan wisata biasanya terjadi setelah Lebaran. Artinya, kepadatan tidak hanya muncul saat arus mudik, tetapi juga saat arus wisata pasca-Lebaran.
Untuk mengantisipasi hal tersebut, total tujuh pos akan didirikan selama Operasi Ketupat. Terdiri dari Pos Pantau, Pos Pelayanan, dan Pos Pengamanan yang tersebar di sejumlah titik strategis.
Terkait rekayasa lalu lintas, Widjaja menegaskan penerapannya bersifat situasional. Penutupan jalan atau contraflow tidak dilakukan secara permanen, melainkan menyesuaikan kondisi di lapangan.
“Rekayasa lalu lintas sifatnya insidentil, situasional. Tidak harus ditutup, tidak juga harus contraflow. Semua melihat perkembangan arus di lapangan,” tegasnya.
Secara nasional, pergerakan masyarakat saat Lebaran 2026 diprediksi mencapai 143,6 juta orang. Meski terjadi tren penurunan dibanding tahun sebelumnya, Kota Malang tetap bersiap menghadapi potensi kepadatan, terutama di pusat belanja dan jalur utama yang menjadi simpul pergerakan kendaraan.








