Kota Malang, blok-a.com – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Malang angkat bicara terkait temuan warga soal truk pengangkut sampah yang tetap beroperasi meski dalam kondisi tidak layak, hingga menyebabkan sampah tercecer di jalan, Minggu (8/3/2026).
Pelaksana Harian (Plh) Kepala DLH Kota Malang, Gamaliel Raymond Hatigoran Matondang, menjelaskan bahwa situasi tersebut dipicu kondisi darurat dalam pengangkutan sampah.
Menurutnya, saat kejadian, sejumlah armada tertahan di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) karena proses pembuangan yang berlangsung lebih lama akibat hujan.
“Beberapa truk tertahan di TPA karena proses pengurukan agak lama, sehingga ada beberapa lokasi yang membutuhkan tambahan armada untuk pengambilan sampah,” ujar Raymond, Senin (9/3/2026).
Keterbatasan armada membuat DLH harus mengoperasikan kendaraan yang sebenarnya belum siap digunakan karena masih menunggu perbaikan.
“Memang truk itu rencananya akan diperbaiki. Tetapi karena belum sempat diperbaiki dan ada kebutuhan mendesak, akhirnya dipakai,” jelasnya.
Ia menegaskan, meski kondisi kendaraan tidak optimal, proses pengangkutan tetap dilakukan dengan pengamanan, yakni menggunakan terpal penutup agar sampah tidak berjatuhan.
DLH mencatat, dari total 48 unit truk yang dimiliki, terdapat tiga armada dengan kondisi rusak berat, seperti bagian bak yang sudah berkarat hingga berlubang.
Kendaraan tersebut pada dasarnya tidak digunakan untuk operasional harian, melainkan hanya difungsikan sebagai cadangan saat kondisi mendesak.
Dalam hal perawatan, DLH mengalokasikan anggaran sekitar Rp600 juta setiap tahun. Namun, dana tersebut dinilai belum mampu mengakomodasi seluruh kebutuhan perbaikan armada.
Selain itu, mayoritas kendaraan yang dimiliki juga sudah berusia cukup tua, dengan tahun produksi berkisar antara 2015 hingga 2017. Bahkan, masih ada beberapa unit yang diproduksi sebelum tahun 2000.
Kondisi ini mendorong DLH mengusulkan penambahan armada baru. Pada tahun ini, pemerintah kota mendapatkan tambahan satu unit truk yang saat ini masih dalam proses lelang.
Meski ada penambahan, jumlah armada yang tersedia masih belum mencukupi kebutuhan pelayanan pengangkutan sampah di seluruh wilayah Kota Malang.
Saat ini terdapat 78 titik Tempat Penampungan Sementara (TPS) yang harus dilayani. Dalam kondisi ideal, satu truk seharusnya hanya melakukan dua kali ritase dalam sehari.
Namun, karena keterbatasan armada dan tingginya volume sampah, satu kendaraan kini harus bekerja hingga tiga sampai empat kali ritase.
“Kalau idealnya satu TPS dua kali pengambilan, seharusnya dibutuhkan sekitar 70 truk. Sementara yang tersedia saat ini hanya 48,” pungkasnya.








