Kota Malang, blok-a.com – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Malang menyiapkan inovasi pengolahan sampah menjadi sumber energi. Rencana yang sebelumnya mengarah pada produksi refuse-derived fuel (RDF) kini dikembangkan menjadi batu bara sintetis.
Plt Kepala DLH Kota Malang Gamaliel Raymond Hatigoran Matondang mengatakan, perubahan konsep ini dilakukan karena rencana pemanfaatan RDF sebagai bahan bakar alternatif industri semen terkendala jarak.
“RDF itu kita kerja sama dengan pabrik semen. Tapi, karena jarak dengan pabrik semen yang ada di Tuban itu jauh, sehingga dapat mengurangi kalori dari RDF itu sendiri,” ujar Raymond.
DLH kemudian menyiapkan pengembangan RDF menjadi batu bara sintetis. Selain itu, teknologi pirolisis juga dirancang untuk mengolah sampah menjadi bahan bakar petasol.
“RDF kita tingkatkan satu inovasi lagi menjadi batubara sintetis. Disamping itu kami mengembangkan pengolahan sampah dengan teknologi pirolisis untuk menghasilkan bahan bakar petasol,” ungkapnya.
Rencana tersebut menjadi bagian dari persiapan Kota Malang mengikuti Local Service Delivery Program (LSDP) yang digagas Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri).
Kota Malang saat ini masih menjalani proses penilaian untuk program tersebut. Dari sekitar 60 kabupaten/kota yang dipertimbangkan, sebanyak 30 daerah telah diundang untuk mengikuti rencana pelaksanaan LSDP. Kota Malang sendiri masih berada dalam 10 besar dan diharapkan menjadi salah satu daerah percontohan.
Selain perubahan teknologi, konsep fasilitas pengolahan sampah juga ikut disesuaikan. FS yang dibuat DLH pada 2023 sebelumnya hanya mencakup Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST).
Dalam konsep terbaru, fasilitas juga akan mencakup Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R). TPST direncanakan berada di kawasan Supit Urang, sedangkan TPS3R ditempatkan di Kelurahan Purwantoro.
“Rencananya, TPST akan berada di kawasan Supit Urang. Sedangkan TPS3R akan ditempatkan di Kelurahan Purwantoro,” jelas Raymond.
Penyesuaian konsep tersebut membuat kapasitas pengolahan sampah ikut berubah. Dari sebelumnya dirancang mencapai 150 ton per hari, kapasitas terbaru ditargetkan sekitar 120 ton per hari.
Sebanyak 100 ton sampah per hari akan ditangani melalui TPST Supit Urang, sedangkan 20 ton lainnya diproses melalui TPS3R Purwantoro.
“Sebanyak 100 ton sampah per hari akan ditangani melalui TPST di Supit Urang. Sementara 20 ton lainnya akan diproses melalui TPS3R di Purwantoro,” ujarnya.
Dari sisi anggaran, kebutuhan pembangunan juga mengalami penyesuaian. Anggaran yang sebelumnya diperkirakan sekitar Rp200 miliar kini turun menjadi sekitar Rp130 miliar.
“Harapannya nanti Kota Malang akan menjadi contoh untuk pelaksanaan LSDP tersebut. Kalau terlaksana, pengerjaannya dimulai tahun depan,” pungkasnya. (bob)








