Kota Malang, blok-a.com – Ada yang berbeda di titik henti Bus Trans Jatim di Jalan Kawi, Kota Malang. Terpantau pada Rabu (14/10/2026), kini terdapat kursi panjang dan papan petunjuk yang dipasang untuk menunjang kenyamanan penumpang.
Penambahan fasilitas tersebut dilakukan komunitas Transport for Malang pada Minggu (11/10/2026). Salah satu penggerak komunitas, Wahyu Styo Pratama, mengatakan titik henti di Jalan Kawi dipilih karena menjangkau sejumlah point of interest (POI), seperti pusat perbelanjaan dan kawasan Ijen Boulevard.
“Menurut observasi kami, titik henti di Kawi menjadi salah satu titik yang menjangkau beberapa POI (point of interest) seperti pusat perbelanjaan dan Ijen Boulevard,” ungkapnya.
Penambahan fasilitas tersebut bukan kali pertama dilakukan Transport for Malang. Sebelumnya, komunitas ini juga menata halte di Jalan Veteran dengan mengecat ulang dan membersihkan kotoran yang menempel.
Di Jalan Kawi, Transport for Malang juga memperbarui papan petunjuk arah di Halte Kawi 2. Papan yang sebelumnya dibuat secara swadaya itu diketahui mengalami kerusakan, meski bagian penguat di belakangnya masih utuh.
“Sementara di titik henti di Jalan Kawi yang satu lagi yang berupa rambu, menurut informasi masih belum tersedia papan penunjuk,” sambung Wahyu.
Menurutnya, rambu tersebut sebelumnya digunakan untuk memasang banner iklan salah satu hotel di Kota Malang. Setelah banner disingkirkan, komunitasnya memasang papan petunjuk baru seperti yang telah tersedia di sejumlah titik henti Bus Trans Jatim lainnya.
Selain papan petunjuk, kursi panjang juga ditambahkan agar penumpang bisa duduk saat menunggu kedatangan bus.
Wahyu menilai, peningkatan layanan transportasi umum tidak cukup hanya dengan menyediakan armada dan mengalihkan masyarakat dari kendaraan pribadi. Fasilitas pendukung hingga pemeliharaan juga perlu diperhatikan agar perjalanan penumpang terasa nyaman dari awal hingga akhir.
“Bukan hanya memandang mobilitas sebatas memindahkan orang dari kendaraan pribadi ke kendaraan umum tanpa memastikan kenyamanan secara end-to-end,” tegas Wahyu.
Ia menambahkan, upaya meningkatkan kualitas transportasi umum perlu dilakukan bersama oleh berbagai pihak. Menurutnya, selama ini pembenahan mobilitas masih kerap terkendala birokrasi di tingkat dinas maupun pemerintahan tertentu.
Selain fasilitas di titik henti, Wahyu turut menyoroti kondisi trotoar yang menjadi akses menuju lokasi menunggu bus. Sebagian trotoar dinilai kurang layak karena mengalami kerusakan dan pecah, sehingga berpotensi membahayakan pejalan kaki, terutama penyandang disabilitas.
Wahyu berharap masyarakat turut menjaga fasilitas yang telah tersedia di berbagai titik henti di Kota Malang agar dapat digunakan secara berkelanjutan. (bob)








