Kota Malang, blok-a.com – Jalan Semeru agaknya menjadi salah satu jalan raya di Kota Malang yang sudah dikenal atas kemacetan. Hal ini tentu saja dikeluhkan oleh para pengguna jalan dan masyarakat sekitar.
Salah satu keluhan atas kemacetan datang dari pegawai salah satu kafe di Jalan Semeru Kota Malang yang mengaku bernama Puguk Semeru.
“Hehehe, macet pol. Lha gimana orang dari jalan selebar Kayutangan terus belok ke Semeru mengumpul semua yang dari arah utara dan selatan,” tuturnya.
Tak hanya itu, ia juga mengeluhkan median jalan Di depan GKKK Semeru, dimana kendaraan diharuskan memilih untuk mengambil lajur kanan atau kiri untuk destinasi yang berbeda. Dalam keadaan ini, kendaraan yang berasal dari lajur yang berlawanan harus mengantre hingga lajur satunya kosong untuk mengambil lajur.
“Gak sampai 100 meter ke arah barat ada tugu yang memecah kendaraan, jadi yang dari utara mau ke selatan dan dari selatan mau ke utara saling hambat. Contohnya juga café saya ada di utara jalan, kendaraan pelanggan yang datang dari arah selatan mau mampir ya kesulitan,” ujar Puguk.
Ia juga mengeluhkan kurang maksimalnya penanganan parkir di daerah sekitar. “Belum lagi tukang parkir valet di dekat café pojok itu, kan parkirnya di selatan jalan. Kadang tukang parkirnya motong jalan saja sehingga kendaraan terhambat jalannya,” tambahnya.
Keluhan serupa juga diutarakan oleh Dimas Agung yang berprofesi sebagai kurir. Ia mengaku sering kesulitan dan juga bingung jika diharuskan beroperasi di area sekitar Jalan Semeru. “Sudah jalannya macet, muter-muter, banyak yang searah juga. Campur-campur rasanya kalau lewat situ,” tutur Dimas.
Dimas mengaku kemacetan Jalan Semeru mencapai puncaknya jika dibarengi dengan momen Car Free Day pada hari Minggu pagi. “Kalau ada CFD macetnya gak umum. Kalau boleh pilih pulang, ya pulang saja daripada disuruh lewat situ,” kelakarnya.
“Yang paling kasihan itu kalau pengendara dari luar daerah, pasti kalau sudah terjebak di Jalan Semeru itu ‘putus’ pikirannya. Lha katanya mau jadi kota destinasi wisata tapi kok masalah kendaraan di dekat tempat wisata malah seperti itu,” kata Dimas. (mg3/bob)








