Kota Malang, blok-a.com – Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang, Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPUPRPKP) Kota Malang mulai mengkaji pembangunan embung sebagai upaya mengurangi potensi banjir di kawasan sekitar Sungai Amprong, khususnya di Jalan Ki Ageng Gribig gang Mirej, Kecamatan Kedungkandang, Kota Malang.
Kepala DPUPRPKP Kota Malang, Dandung Djulharjanto, mengungkapkan banjir yang kerap terjadi di daerah gang Mirej tersebut tidak lepas dari banyaknya pelanggaran sempadan sungai.
“Yang ada di Kota Malang ini banyak sekali terjadi pelanggaran sempadan. Yang harusnya sempadan itu bebas dari bangunan, ya sudah banyak didirikan bangunan oleh warga,” ujarnya saat dikonfirmasi, Kamis (23/4/2026).
Ia menambahkan, kondisi tersebut berdampak langsung pada fungsi sungai, termasuk menghambat proses pemeliharaan. Menurutnya, penggunaan alat berat yang digunakan untuk mengeruk sungai tidak bisa dilakukan karena keterbatasan akses jalan.
“Keberadaan bangunan-bangunan ini juga menghambat dalam proses pemeliharaan. Karena untuk pengerukan sungai itu diperlukan alat berat, kalau aksesnya tidak bisa masuk ya tidak mungkin dilakukan,” jelasnya.
Akibatnya, kawasan seperti Gang Mirej, Gang 12, hingga sepanjang aliran Sungai Amprong menjadi langganan banjir, terutama saat musim hujan dalam dua tahun terakhir.
“Ini jadi langganan, tiap musim hujan mesti selalu banjir di sini, terutama mulai 2024 kemarin,” katanya.
Sebagai langkah penanganan, DPUPRPKP Kota Malang akan melakukan koordinasi lintas instansi, termasuk dengan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Brantas yang memiliki kewenangan atas Sungai Amprong.
“Kita akan rapatkan dengan melibatkan instansi terkait, termasuk BBWS Brantas. Pak Walikota (Wahyu, red) juga menugaskan lurah untuk mengumpulkan data kepemilikan tanah di sepanjang sungai,” ungkap Dandung.
Selain itu, salah satu solusi yang tengah dikaji adalah pembangunan embung di sekitar Gang Mirej. Dengan pembangunan embung, Dandung berharap debit air yang mengalir ke Sungai Amprong dapat dikendalikan sehingga risiko banjir di kawasan hilir bisa ditekan.
“Pak Wali memerintahkan kami untuk mengkaji pembangunan embung di wilayah Cemorokandang. Karena posisinya lebih tinggi, harapannya air dari atas bisa tertahan dulu sebelum mengalir ke bawah,” pungkasnya. (yog/bob)








