Kota Malang, blok-a.com – Pj Wali Kota Malang Wahyu Hidayat baru saja meresmikan Warung Tekan Inflasi ‘Mbois Ilakes’ sebagai salah satu upaya Pemkot Malang menstabilkan harga komoditi pangan di Kota Malang. Di warung tersebut, masyarakat diperbolehkan membeli berbagai bahan pokok dengan harga yang jauh lebih murah dari yang dijual di pasaran pada umumnya.
Lalu, seberapa jauh kah perbedaan harga komoditas pangan yang dijual di warung tersebut? Perbedaannya cukup mencolok, seperti contohnya cabai rawit yang di pasaran dapat menembus harga hingga 70 ribu rupiah per kilogram dijual dengan harga hanya 45 ribu rupiah per kilogram.
Sementara itu, untuk beras yang biasanya dijual sekitar harga 14 ribu rupiah per kilogram, dapat ditebus dengan harga 40-51 ribu rupiah per 5 kilogram atau sekitar 10 ribu rupiah per kilogram di Warung Tekan Inflasi.
Telur yang harganya relative fluktuatif sepanjang tahun dan berkisar hingga 30 ribu rupiah per kilogram, di Warung Tekan Inflasi hanya dijual seharga 17 ribu rupiah. Sementara untuk minyak goreng yang biasanya dijual paling murah 14 ribu rupiah per liter, dapat dibeli dengan harga 21 ribu rupiah untuk kemasan 1,8 liter.
Warung Tekan Inflasi ini dapat dikunjungi di 3 pasar terbesar Kota Malang yaitu di Pasar Terpadu Dinoyo, Pasar Blimbing, dan Pasar Besar Malang. Ketiga warung tersebut diresmikan pada hari Minggu (24/12/2023) dan diharapkan akan tetap aktif melayani pelanggan hingga akhir tahun nanti.
Masyarakat yang membutuhkan stok bahan pokok dipersilahkan untuk membeli bahan-bahan pangan yang disediakan, selama bukan untuk ditimbun dan dijual kembali dengan harga yang jauh lebih mahal karena hal ini justru menambah inflasi.
“Kami yang jelas akan berupaya menjaga stabilitas sampai akhir tahun nanti,” terang Wahyu.
“Kita berupaya langkah mengendalikan inflasi ini bisa sampai pada masyarakat, salah satunya tentu melalui warung ini. Harus berani tampil beda sehingga harapannya dapat menarik konsumen yang membutuhkan bahan pokok dengan harga yang terjangkau,” tutupnya.








