Pakar UB Soroti Indikasi Penebangan Hutan di Balik Banjir Sumatera

Universitas Brawijaya (blok-A.com/Syams Shobahizzaman)

Kota Malang, blok-a.com – Banjir besar yang melanda sejumlah wilayah di Pulau Sumatera kembali memunculkan sorotan terkait kerusakan lingkungan dan lemahnya mitigasi bencana. Guru Besar Bidang Mitigasi Bencana Universitas Brawijaya (UB), Prof. Sukir Maryanto, menilai temuan banyaknya batang kayu yang terbawa arus menjadi indikasi kuat adanya aktivitas penebangan hutan.

“Banyak kayu yang terhanyut banjir. Itu indikasinya ada penebangan hutan,” ujarnya saat ditemui di Malang.

Ia menyebut kasus tersebut bukan hal baru dan muncul akibat pengelolaan hutan di Indonesia yang masih berada “di bawah rata-rata dunia” dalam standar keberlanjutan. Menurutnya, ekspansi transmigrasi, perkebunan karet, hingga sawit pada masa lalu banyak mengorbankan tutupan hutan tanpa perhitungan lingkungan jangka panjang.

Prof. Sukir mengingat masa ketika ia menjadi transmigran di Sumatra, melihat langsung pohon besar ditebang untuk membuka lahan. “Banyak kasus pemanfaatan hutan tidak sesuai desain lingkungan, sehingga banjir kerap muncul,” terangnya.

Selain faktor deforestasi, ia menyebut cuaca ekstrem sebagai pemicu utama banjir. Periode September hingga Februari disebut menjadi fase intens pelepasan uap air ke atmosfer, sehingga potensi hujan tinggi selalu muncul setiap tahun.

“Sekarang ini kondisi cuaca ekstrem. Siklusnya muncul tiap tahun,” katanya.

Namun menurutnya, dampak cuaca ekstrem seharusnya dapat ditekan jika sistem informasi cuaca di Indonesia bekerja lebih optimal. Ia membandingkan kemampuan peringatan dini Indonesia dengan Jepang yang dinilai jauh lebih detail dan terstruktur.

“Di Jepang, ramalan cuaca tersedia per jam dan per wilayah kecil seperti kecamatan. Muncul di TV publik, transportasi umum, sampai situs pemerintah,” jelasnya.

Prof. Sukir menilai BMKG perlu memperkuat fungsi informasi dan sosialisasi publik dengan melibatkan BRIN, badan geologi, hingga perguruan tinggi. Ia menyebut koordinasi antarlembaga masih lemah sehingga data dan alat pemantauan bencana belum terintegrasi.

Tak hanya soal banjir, Prof. Sukir juga mengungkap temuan anomali sinyal MAGDAS (Magnetic Data Acquisition System) pada salah satu stasiun di Cangar yang dikelola UB. Anomali itu terdeteksi berdekatan dengan aktivitas erupsi Gunung Semeru.

“Ada sinyal besar di Cangar, sementara di Malaysia atau Australia tidak ada. Itu menarik,” ujarnya.

Meski demikian, ia menegaskan akademisi tidak memiliki kewenangan mengeluarkan peringatan dini. Tanggung jawab itu berada pada PVMBG.

“Kami hanya melakukan analisis. Peringatan resmi adalah kewenangan PVMBG,” tegasnya.

Menurutnya, setiap gunung memiliki karakter berbeda sehingga tidak dapat disamakan dalam menentukan pola dan ambang aktivitas.

“Gunung api punya napas berbeda-beda. Tidak bisa digeneralisasi,” kata Prof. Sukir.

Ia berharap pemerintah memperkuat pengawasan lingkungan serta meningkatkan integrasi peralatan pemantauan bencana. Langkah tersebut dinilai penting agar mitigasi lebih presisi dan kepercayaan publik meningkat. (bob)